Rabu, 09 November 2011

Pernahkah kamu, rindu merasakan sesuatu yang berbeda di luar dirimu? Di luar yang kamu pernah rasakan? Menjadi seseorang yang sangat berbeda.

Cerita ini, semacam situasi yang menjebakku dalam rasa bosan menjalani hidup tanpa tantangan. Suatu hari, di kehidupanku yang cukup mengesankan, aku dipertemukan dengan orang-orang yang hidupnya free like a boat in the ocean. Mereka tidak mempermainkan hidup, hanya saja mereka mengemudi di jalan yang dianggap orang berbahaya. Kawan-kawanku ini, seperti memiliki keberanian untuk hidup lain dari yang lain. Satu jam duduk dan mendengarkan cerita mereka, serasa menyelam di perairan warna-warni yang penuh ranjau laut. Sehari merasakan hidup dengan cara mereka membawaku pada banyak kesimpulan positif.

Maka aku mengutuki diriku sendiri karena pernah menilai kehidupan semacam yang mereka kerjakan itu salah. Mereka tidak salah, memang tidak ada yang salah dengan yang mereka kerjakan. Toh mereka siap dengan pandangan orang tentang manusia-manusia yang betah melek menghabiskan malam di ruang hampa. Sering kali, bagiku, mereka adalah guru kehidupan. Orang-orang yang mencari diri mereka melalui medan berduri. Mereka lebih menghargai arti 'percaya', 'persahabatan', dan 'kesetiaan', serta 'penghargaan' dari orang-orang kebanyakan. Loyalitas mereka, jangan ditanya! Mereka adalah manusia-manusia terbaik Tuhan yang mengajariku menghargai orang lain. Meski kelihatannya mereka yang lupa menghargai diri mereka sendiri.

Maka terima kasih buat kalian, dan kehidupan yang kalian tunjukkan. Terima kasih kalian memberi aku kebebasan memilih. Dan kalian sama sekali, sama sekali tidak pernah menyeretku masuk mengikuti alur kalian. Hebat!

Siapapun yang membaca tulisanku di atas: sebelum memutuskan untuk berkesimpulan, ingatlah bahwa selalu ada kebaikan di setiap makhluk Tuhan.

Senin, 04 Juli 2011


Pengarang : Devania Annesya
Tahun terbit : 2011
Tebal buku : 186 halaman
Penerbit : Andi
Harga buku : Rp 28.000,-



Cinta, bagi Aurelia Aurita atau Aurel, adalah sesuatu yang membingungkan. Cinta pertama yang dia curahkan buat orang yang dia sayangi tak bahagia. Karena itulah, Aurel memutuskan tidak jatuh cinta lagi dengan pria mana pun. Dia juga memasang sederet criteria untuk calon pendamping hidupnya kelak. Tujuannya, dia tak terjatuh lagi dalam kehidupan asmaranya.
Namun apa mau dikata. Saat panah cupid menembus hatinya, Aurel pun akhirnya jatuh cinta lagi. Hal itu terjadi ketika dia dan teman-temannya sedang liburan bersama. Saat sedang berjalan-jalan sendirian, Aurel tak sengaja mendapati seorang cewek cantik meronta-ronta di tengah danau.
Cewek itu hampir tenggelam. Serta merta Aurel langsung berteriak-teriak mencari bantuan. Seketika itu juga sesosok cowo tampan berbadan tegap masuk ke dalam danau dan berenang selincah ikan menyelamatkan cewek tadi. Setelah beberapa saat kemudian, Aurel baru tahu bahwa keduanya kakak beradik.
Cowok yang barusan menyelamatkan adiknya itu telah membuat Aurel jatuh hati. Namanya Daniel Radyansyah. Cowok yang dingin, namun dapat membuatnya merasa hangat. Setelah kejadian itu, Aurel dan Daniel menjadi semakin dekat. Daniel pun merasakan perasaan yang sama pada Aurel.
Daniel juga hampir memenuhi semua criteria calon suami yang diidamkan Aurel. Sayang, terkadang Aurel masih suka gengsi mengakui segala kelebihan Daniel. Saat keduanya tengah merajut kisah kasih, tiba-tiba cinta pertama Aurel di masa lalu datang kembali.
Arlodi adalah cowok yang menjadi orang ketiga dalam hubungan Aurel dan Daniel. Cowok usil itu ternyata masih menyimpan perasaan yang buat Aurel. Hal inilah yang membuat Aurel bimbang. Saat bersama Daniel, dia merasa menemukan pilihan yang tepat. Namun saat Arlodi di sisinya, Aurel merasa cinta lamanya yang pupus seakan dapat dimulai lagi.
Di tengah kebimbangan itu, masalah lain terjadi. Ayah Daniel tidak menyetujui hubungan Aurel dan putranya. Semua itu membuat balada cinta Aurel makin berwarna. Aurel pun berharap jadi ubur-ubur yang bisa kabur dari masalah dan memilih satu lelaki terbaik. (cin/c9/kkn)
Cuek cuek tapi Butuh
Novel Ubur ubur Kabur yang menjadi buku utama Bookclub kali ini sukses memancing tawa bookaholic yang tediri atas Ochi, Nicky, Acil, dan Putri. Saat berdiskusi, mereka tak henti-hentinya tergelak menanggapi kisah cinta segi tiga si tokoh utama utama.
“Menurut aku, si Aurel ini sebenarnya juga suka sama Daniel. Hanya dia gengsi. Cuek-cuek butuh gitu deh,“ ujar Ochi mengawali pembicaraan. Aurel yang dimaksud Ochi adalah tokoh utama novel itu. Aurel punya nama panjang Aurelia Aurita (nama ilmiah ubur-ubur). Dia adalah cewek yang tidak pernah pacaran.
Dasarnya, Aurel merupakan gadis yang memiliki prinsip kuat. Dia berprinsip harus mendapatkan pendamping hidup yang pas di hati dan bisa menjaga dirinya. Sayang, selama 22 tahun hidupnya, dia belum pernah bertemu dengan cowok idaman.
Suatu hari, Aurel dipertemukan dengan Daniel Radyansyah. Cowok itu membawa Aurel ke cerita cinta penuh kejutan. Daniel digambarkan sebagai cowok cool, penyabar, ,apa, serta penuh tanggung jawab. Daniel menjadi tokoh favorit para bookaholic cowok.
“Aku suka sama tokoh Daniel. Dia punya karakter yang tegas dan simpatik. Dia beda sama Arlodi yang suka mengganggu,“ ujar Acil. Arlodi adalah cinta pertama Aurel pada masa lalu. Saat Aurel dan Daniel mulai dekat, Arlodi datang dan mengganggu hubungan keduanya.
Pendapat Acil langsung disetujui Dicky. Cowok ramah itu sepakat untuk menolak sikap usil Arlodi. Uniknya, dia juga sebel sama sikap Aurel yang terkesan nggak punya pendirian.
“Si Aurel ini kok kayak masih belum yakin sama perasaannya ya? Habis, dia kadang suka Daniel, kadang suka Arlodi. Kesannya plinplan gitu,” papar Dicky.
Pendapat Dicky disanggah Nicky. Menurut Nicky, Aurel pasti punya alasan yang kuat kenapa bersikap demikian. Selidik punya selidik, ternyata, Nicky pernah lho merasakan cinta segit tiga, seperti yang dialami Aurel. Wah, curhat colongan nih, hihihi…
“Hehehe… sebenarnya sih bukan curhat colongan. Menurut aku, semua orang pasti punya alasan kenapa sampai bisa bersikap bimbang seperti itu. Aku sih lebih milih Daniel daripada Arlodi,” jelas Nicky.
Kalau Acil nggak suka karena nyebelin, kali ini Nicky punya alasan sendiri. “Aku tuh sebel sama Arlodi karena namanya sama sekali nggak menarik. Nama kok kayak jam aja, arloji. Hahaha…” tuturnya. Para bookaholic pun terbahak saat mendengar celoteh Nicky.
Putrid yang sejak tadi diam nggakk mau ketinggalan comment. Dia menanggapi sifat perfeksionis Aurel dengan sudut pandang yang bijak. Terutama dalam memilih pendamping hidup.
“Sayang, cinta nggak melulu bisa dimengerti secara logika dan lebih menuruti kata hati. Jadi, sebaiknya kita menggunakan dua hal itu jika nanti ingin mencari cinta sejati,“ jelas Putri. Jawaban Putri dibalas bookaholic lainnya dengan sahutan, “Cieeeee…“ (cin/c12/kkn)

“Overall, ceritanya nggak mengurangi keasyikan baca novel ini kok. Aku paling suka deskripsi tokohnya yang sangat detail.” (Putri Ayu S., ITS → memberi skor 4 dari 5)

“Novel ini bagus dari segi cerita dan gaya bahasa. Meski ceritanya klise, pengarangnya bisa bikin novel jadi nggak boring.“ (Dicky Setiawan, SMAN 20 Sby → memberi skor 4 dari 5)

“Ceritanya simpel dan klise. Cinta segitiga kan emang sering terjadi dalam kehidupan kita. Pengarangnya anak muda banget.” (Rossyta Wahyutiar, SMAN 4 Sby→ memberi skor5 dari 5)

“Meski berserita tentang cinta, novel ini menyelipkan humor-humor segar. Aku suka sama tokoh Daniel. Dia itu cool.” (Jarul Maksum, SMAN 15 Sby)

“Judulnya bikin aku tertarik. Pas membaca, aku jadi merasa kayak tokoh utma. Aku juga pernah mengalami kisah seperti si Aurel.” (Nicky Y., SMA Muh 2 Sby)

Diambil dari:
RESENSI JAWA POS SENIN, 31 JANUARI 2011 (BOOK CLUB, HALAMAN 38)

Kamis, 12 Agustus 2010

Sekelumit cerita menggelikan...

Beberapa waktu lalu aku pergi ke Jogja bersama salah satu temanku, Muti. Alasannya, aku pengen ketemu semua teman – temanku Puta, Anggi, Sasa. Ternyata sama saja denganku, yang lain terjerembab dalam kesibukan kalau sudah ngomong soal kampus. Sepertinya aku harus terbiasa dengan keadaan seperti itu, yang mungkin akan lebih sering aku temui di kehidupan – kehidupan berikutnya. Jadi, aku hanya bertemu the only one Puta di sana.

Malam pertama kami datang, Puta disibukkan dengan les Bahasa Inggrisnya yang lagi dalam tahap ujian. Dengan serba nekad Puta merelakan Beat-nya dikendarai dua manusia buta arah yang mencoba mencari hiburan di Malioboro, dengan berbekal peta yang digambarnya di tissue Yogchick.

So, hanya satu saja bekalku, bismillahirahmanirrahim.
Kami tiba dengan selamat meskipun pulang dengan penuh cobaan. Ketololanku teruji ketika di lampu merah aku menanyai keluarga yang sedang berhenti di sisi kiriku.
”Bu, Kaliurang itu jalannya ke mana?” dengan mimik penuh tanda tanya, yang melebihi mimik mukaku yang lagi bingung, ibu itu menjelaskan arah yang aku tanyakan. Sedikit janggal ketika si ibu menyebut RS Jiwa. Nah, lo, pasti dikiranya aku malem – malem mau klayapan ke Kaliurang, trus check in bareng cowok, dan threesome di sana dengan partnerku yang notabene seekor perempuan yang sedang duduk di sadel belakangku. Akan lebih aman kalau tadi aku nanya arah ke Yonif saja.

Ketololan kedua terjadi di Trans Jogja keesokan harinya. Setelah menerima kenyataan kraton tutup jam setengah dua, kami segera mbecak pulang dengan kepiluan yang mendalam (viva hiperbola...). Kami masuk ke shalter di depan Taman Pintar. Awalnya, semua tampak damai, sampai akhirnya masuklah segerombolan orang bertindik di mana – mana (kuping, hidung, bibir, udel juga kali), rambut dan baju yang kelihatan dekil, dan sumpah bau. Yep, anak punk. Ada beberapa cowok dan dua cewek yang tiba – tiba memenuhi halte. Dan sepertinya mereka bakal jadi parfum di bus sepanjang perjalanan karena rute mereka dengan arah kami pulang sama. Bus datang dan aku langsung melompat ke dalam, mencari tempat duduk buat aku dan Muti. Di sini kesalahannya, harusnya aku ngebiarin mereka duduk. Karena baru aku sadari mereka bakal berdiri kalau kursi penuh, dan this is it... salah satu dari mereka yang kupingnya berlobang gede banget berdiri tepat di depanku dengan perut yang segede hoohaa dan ketek bau kingkong, menebar aroma kematian ke seluruh penjuru bus. Pemberhentian berikutnya beberapa orang di kursi turun, dan aku segera minta si perut hoohaa duduk di kursiku dan aku pindah duduk di depannya. Thanks for saving me from hell, God. Aku pikir semua akan segera berakhir. Akhirnya aku tahu cobaan belum berakhir setelah salah seorang dari mereka menanyaiku.
”Mbak, asli mana?”
berharap ini tidak berlanjut aku bilang, ”Palembang,” dan berhasil. Si penanya diam, sampai tiba – tiba seseorang di sampingku mulai bersuara, ”Plembang Yu? Wong kito galok?Blablablebbleb...,”
Dan habislah Dianti! Anak punk di sebelahku ternyata orang Palembang dan terus aja ngoceh dalam bahasa ibu-nya yang sama sekali nggak ku pahami, lah aku kan Cuma ngaku – ngaku, wong aku asli Jowo-Madura.
Di salah satu pemberhentian deket UNY, mereka turun... Saya berjanji tidak akan menggunakan jurus seperti itu lagi, kapok ketauan bo'ong.

The last thing
Sebelum balik ke negeriku tercinta, aku memutuskan mampir dulu ke Solo, pengennya sih bertemu kawan di sana. Dari stasiun Tugu, aku beli tiket komuter yang orang - orang sebut PRAMEX!! Aku datang kesiangan, karena Pramex pertama udah berangkat beberapa puluh menit sebelumnya dan kesiangan juga, karena Pramex berikutnya baru berangkat setengah 9. Karena masih satu setengah jam, aku dan Puta duduk - duduk di peron stasiun, ngobrol ngalor ngidul sampai akhirnya muncul komuter dengan warna kuning dan aku bilang sama Puta, "Ta, komuternya imut ya. Ini Pramex bukan sih?"
"Bukan, ini kan Prambanan Ekspress, kereta kamu belom dateng,"
dan obrolan pun berlanjut kemana - mana sampai pada gagasan memberi Puta pengalaman naik kereta api, karena, menurut pengakuan dia sendiri, dia belum pernah naik kereta. Pitty...
Kereta kuning itu berhenti cukup lama di salah satu jalur di depan kamu, dan berangkat tepat pukul setengah sembilan. Tanpa rasa curiga aku memandangi kereta itu bergerak pergi meninggalkan stasiun.
Kami baru menyadari ada yang aneh setelah dua jam menunggu keretaku belum datang juga. Tiba - tiba seperti ada komet yang lewat di kepalaku, "Puta, jangan bilang, Pramex means Prambanan Express...," muka Puta langsung berubah aneh, serasa disadarkan dari kesotoyan...

Oke, setelah menyadari aku membiarkan keretaku pergi tanpa kunaiki, aku membeli tiket lagi sehingga tiket perjalanan pulangku dua kali lebih mahal dari niat suci berhemat yang telah direncanakan...

I can make an easy thing become complicated, this is me...