Sabtu, 23 Maret 2013


Februari adalah bulan perjalanan ke Thailand di 2013 agenda. Gembira ria akhirnya bisa kembali masuk ke international departure – nya bandara setelah 2 tahun terbelit target wisuda di tahun ke-4 kuliah. Semua sudah dipersiapkan: tabungan selama 2 bulan yang pada akhirnya tidak cukup (mengapa tidak cukup akan dijelaskan di bagian berikutnya), airport tax yang naik menjadi Rp 150.000,00, kamera pinjaman yang tidak ada chargernya sehingga tidak pernah berguna selama di sana.



Penerbangan ke Bangkok dijadwalkan pukul 15.00 WIB setelah dijadwal ulang oleh maskapai AirAsia. Semua prosedur lancar. Penerbangan Surabaya-Bangkok ditempuh dalam waktu 4 jam, padahal awalnya saya pikir hanya 2 jam. Lalu saya lupa bahwa saya terbang dari Surabaya, bukan Jakarta. Keparatnya, perut kelaparan di atas pesawat padahal uang rupiah hanya sisa 15 ribu. Akhirnya hanya bisa beli air mineral kemasan paling kecil seharga 10 ribu. Kapitalisme wajar di atas pesawat, kan? 

Saya duduk bersebelahan dengan seorang wanita asal Probolinggo yang dengan aksen Maduranya yang kental bercerita bahwa dia harus balik ke Probolinggo di tengah perjalanan ke Juanda, Surabaya karena ketinggalan paspor. Saya iba, tapi di dalam hati saya mengutuki perbuatan bodohnya meninggalkan paspor di rumah, padahal sudah jelas-jelas mau ke luar negeri. Nantinya, saya yang dikutuk balik oleh alam semesta.

Pemeriksaan di imigrasi Don-Muang Airport Thailand berjalan lancar. Setelah turun dari eskalator, saya berlari ke toilet, menaruh koper, jaket, dan paspor sembarangan dan menyelesaikan 'urusan’ dengan cepat. Berikutnya, saya membeli kartu telepon di sebuah konter di dekat kantor polisi bandara. Konter sedang ramai saat itu, banyak yang mau beli kartu telepon, dan yang ramai-ramai gerudukan itu adalah orang Indonesia. Saya melanjutkan perjalanan dengan naik shuttle bus menuju stasiun Bangkok Train Station (BTS) Mochit setelahnya, cuma 17 THB dengan bus bersih bebas sampah dan asap rokok. Belakangan saya baru tahu kalau di Thailand tidak boleh makan di dalam bus, apa lagi rokokan. 2.000 THB dendanya.

Teman saya selama di Bangkok, Tika; sudah sampai Bangkok 2 hari sebelumnya. Dia dan Fandi, teman saya yang kerja di AIESEC Thailand (yang bersedia berbagi hunian cuma-cuma selama di Bangkok) sudah menunggu di Siam. Segalanya masih lancar. Kami akan pergi ke gay bar malam itu, itu usulan Fandi by the way. Untuk masuk ke bar, harus ada ID card atau paspor. Oke, setelah siap-siap, saya mencari paspor saya di dalam tas. Dan…. 
Saya tidak menemukan buku ijo itu di manapun. Koper dibongkar, ransel diobrak-abrik, dan tidak ada kabar baik dari usaha itu. Pikiran saya terbang ke Don-Muang Airport, saya yakin paspor itu tertinggal (mungkin) di toilet atau di konter kartu telepon. Saat itu, sejujurnya saya tidak panik. Pikiran positif sangat menolong saya untuk tenang, saya yakin ada seseorang yang menemukannya dan mengembalikannya ke pusat informasi. Sehingga malam itu, kami tetap pergi ke gay bar, saya tidak ingin melewatkan Cabaret Show di sana.

Paginya, kami pergi ke Don-Muang Airport. Kami menuju pusat informasi dan saya menanyakan keberadaan paspor saya. Mereka bilang mereka tidak mendapat laporan apapun soal paspor. Mulai saat itu pikiran saya keruh. Saya kembali mengunjungi counter tempat saya membeli kartu telepon, dan mereka bilang tidak ada paspor tertinggal. Pelayan di counter itu menangkap mimik sedih di muka saya, dia mengantar saya ke kantor polisi untuk membuat laporan kehilangan. Polisi yang bertugas saat itu ramah, tipikal orang Thailand kebanyakan. Dia membuatkan surat kehilangan berbahasa Thailand, memberikan alamat KBRI untuk mengurus paspor baru, dan alamat kantor imigrasi untuk meminta stempel arrival dan surat departure. Sejak hari itu agenda perjalanan saya tambah 1, mengunjungi KBRI.

Keesokan harinya, kami pergi ke KBRI. Seorang petugas menjelaskan kepada saya mengenai prosedur mengurus paspor hilang. Saya tidak bisa mendapat paspor baru, saya hanya akan mendapat Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) yang berlaku hanya untuk satu kali perjalanan masuk ke Indonesia. Biaya yang harus saya bayarkan adalah: 1.750 THB atau Rp 603.750,000 (kurs 1 THB = Rp 345,00). Perasaan saya saat itu adalah miskin. Saya merasa dimiskinkan dengan biaya sebesar itu. Maksud perjalanan hemat saya berantakan. Saya tidak mendapat penjelasan lebih lanjut, karena saya tidak ingin mendengarkan apa-apa lagi. Pikiran saya adalah segera mengurus SPLP dan hidup saya tenang. FYI, berikut dokumen yang harus dipersiapkan untuk mengurus SPLP: scan/copy Kartu Keluarga, scan/copy Akta Kelahiran atau Ijazah, scan/copy paspor lama (jika punya), foto 4x6, surat keterangan hilang dari polisi. Saya sudah bilang kan tadi, alam mengutuk saya. Jangan asal bicara soal keadaan orang ya, itu hikmah dari semua ini.
Saya menghubungi Andi, seorang teman saya yang juga traveler untuk mendiskusikan harga SPLP tersebut. 

Dia bilang, di web disebutkan harga SPLP adalah 150 THB sedangkan paspor baru 1.600 THB. Asumsi baik kami adalah saya akan mendapat SPLP dan paspor atau apapun itu yang seharga 1.600 THB.
Keesokan harinya, saya kembali ke KBRI. Saya menyerahkan semua dokumen dan petugas berjanji SPLP saya (yang sampai saat itu saya tidak tahu seperti apa bentuknya) akan jadi besok siang. Saya pergi ke kasir untuk membayar 1.750 THB, kasir menjelaskan bahwa harga SPLP memang 150 THB, “tapi mbak kena denda karena kelalaian menghilangkan dokumen negara, itu biaya sisanya.” Jadi, 1.600 THB itu bukanlah paspor atau apapun yang saya bayangkan sebelumnya, itu adalah denda sodara-sodara. Saya benar-benar miskin dalam arti sesungguhnya setelah meninggalkan kasir. Sejak hari itu, kemanapun pergi, kami berusaha buat jalan kaki, mengurangi perjalanan dengan taksi dan BTS, makan 2x sehari itupun di pinggiran jalan, dan bahkan harus ngutang ke pacar karena kehabisan uang.

SPLP jadi keesokan harinya. Rupanya SPLP adalah buku seukuran paspor dengan sampul hijau muda menyala dan hanya terdiri dari beberapa lembar, di dalamnya terdapat keterangan tentang fungsi surat tersebut. Tika ngeyel untuk pergi ke kantor imigrasi hari itu juga karena kami tidak akan punya kesempatan jalan-jalan kemana-mana jika tidak pergi hari itu. Perjalanan dari KBRI ke kantor imigrasi cukup jauh. Kami harus naik BTS dari Ratchadevi ke Mochit lalu naik taksi. I was amazed. Kantor yang dimaksud ternyata adalah kantor pemerintahan terpusat yang di dalam gedung besar tersebut ada kantor-kantor pemerintahan Bangkok, menjadi satu di dalam satu atap. Kantor akan tutup pukul 16.30, dan kami sampai di sana pukul 16.15. 


Petugas front office menyuruh kami untuk cepat-cepat. Padahal kami tidak tahu apa saja yang harus saya serahkan. Salah satu petugas mengambil SPLP saya dan mem-foto copy-nya. Saya mengambil nomor antrian (sudah jelas tidaka ada yang mengantri saat itu). Saya mendatangi petugas yang seat-nya tertera di nomor antrian. Wajahnya sangar dan tampak tidak senang saya datang.

“Why you come late?” bentaknya tanpa melihat saya.
“I just got this from my embassy”
”Why no come tomorrow, it is almost 16.30!” ternyata sama saja (if you know what I mean).
Si bapak petugas menggerutu sepanjang menyelesaikan urusan saya. Dia kesal saya tidak mempersiapkan foto copy yang harus saya bawa. Tapi saya tidak menyesal karena saya tidak tahu, dan saya bersemangat meski muka si bapak sumpek setengah mati, karena kepulangan saya akan bebas masalah setelah ini. Semuanya beres dalam waktu 10 menit. Si bapak bahkan tidak menjawab salam saya  ketika saya pulang.

Semua aman sampai di hari kepulangan. Dan sangat senang karena tanpa sengaja bertemu lagi dengan polisi bandara yang membuatkan surat kehilangan saya.

Jadi, buat kalian yang akan bepergian ke luar negeri:
1.       Pertimbangkan kemungkinan terburuk dengan mempersiapkan: copy KK, copy Akta Lahir, copy Ijazah, copy paspor dan VISA, dan ekstra uang untuk jaga-jaga
2.       Gali informasi dengan detail mengenai transportasi, biaya transportasi, tempat wisata, bad case dan good case, dan informasi lain yang kalian perlukan. Bangkok bukan kota yang susah untuk yang baru pertama pergi ke Thailand. It was awesome to stay there along 5-7 days.
3.       Selalu catat alamat KBRI dan nomor teleponnya.

Insyaallah setelah ini akan ada posting tentang Bangkok trip saya, semoga bermanfaat.

Selasa, 20 Maret 2012


Ini self reminder, bahwa aku hidup disekeliling orang hebat; salah satunya Kamu.
Sudah pernah aku katakan, aku tidak pernah sekalipun berpikir bahwa aku akan menyayangi kamu seperti ini. Aku berlarian kemana-mana untuk 'mencari' dan ternyata itu kamu, sangat dekat.

5 tahun yang lalu, kamu adalah orang yang setiap pagi aku kirim SMS, "aku berangkat, cepetan siap2". Setiap pagi, aku duduk di atas sepeda motor menungguimu dengan mata meneror, dan kamu panik karena kesiangan bangun.

Setiap pagi, kamu duduk di sebelahku buat sarapan, lalu masuk kelas, menyeret bangku dan duduk di sebelahku. Aku ingat kamu adalah anak yang cukup pintar soal berhitung, dan aku adalah anak yang tersesat di
kelas science, remedial test seeker. Ketika ujian nasional mendekat, kita sama-sama ke masjid dan berdoa di situ. Entah apakah sempat aku memohon biar bisa kuliah sama-sama denganmu, aku hanya memohon yang terbaik untuk orang-orang terbaikku.



Ketika semua mulai sibuk kepikiran akan kuliah di mana, kamu membuat ceritamu sendiri; telat daftar tes mahasiswa baru. Aku pikir kamu memang kebangetan cerobohnya, sampai tidak memperhitungkan kemungkinan terburuk daftar di hari terakhir.

Tapi hal baiknya, kamu akhirnya kenal dengan orang tuaku, meski katamu agak memalukan :p. Baru kenal langsung ngerepotin. Tujuan baikmu mendaftar kuliah bergeser menjadi menemani aku test masuk kuliah. Terima kasih ya. Pendaftaran gelombang dua, aku janji untuk mengingatkanmu daftar kuliah. Dan akhirnya kita satu kampus. \m/

Sedikitpun tidak pernah terbayang, kengototanku buat memaksamu kuliah di tempat yang sama akan berkesimpulan seperti ini. Aku kehilangan kamu dua tahun lebih. Kita membangun kehidupan perkuliahan kita masing-masing. Dan tentunya, bertemu di KKN juga bukan kehendakku, apa lagi sampai akhirnya kembali dekat dengan perasaan yang sama sekali berbeda dengan waktu SMA. Berikutnya perasaan itu sempat disimpan di kotak rahasia karena kondisi masing-masing yang tidak mungkin berharap lebih.

Kita saling mengamati kisah-kisah kita masing-masing. Aku mengencani orang-orang yang salah, dan kamu yang tidak pernah ada kejelasan dengan beberapa orang yang dekat denganmu. Lucu sekali kita sekarang di sini, dan punya cinta. Semua orang kaget, semua orang tidak percaya. Aku tidak pernah ingin menjelaskan pada mereka tentang perasaan kita, karena aku juga gagal menjawab mengapa aku menyayangimu. Mereka menanyakan, tidakkah kita takut jika semua ini tidak berhasil, akan merusak persahabatan yang baik selama ini? Tapi kawan, hubungan ini ada juga dengan niat yang baik, dan aku ingin Tuhan menguatkan kami untuk menjaganya.

P.S: Thank you Dwitya and Rini for this picture.

This is about you, Pi. <3


Rabu, 09 November 2011

Pernahkah kamu, rindu merasakan sesuatu yang berbeda di luar dirimu? Di luar yang kamu pernah rasakan? Menjadi seseorang yang sangat berbeda.

Cerita ini, semacam situasi yang menjebakku dalam rasa bosan menjalani hidup tanpa tantangan. Suatu hari, di kehidupanku yang cukup mengesankan, aku dipertemukan dengan orang-orang yang hidupnya free like a boat in the ocean. Mereka tidak mempermainkan hidup, hanya saja mereka mengemudi di jalan yang dianggap orang berbahaya. Kawan-kawanku ini, seperti memiliki keberanian untuk hidup lain dari yang lain. Satu jam duduk dan mendengarkan cerita mereka, serasa menyelam di perairan warna-warni yang penuh ranjau laut. Sehari merasakan hidup dengan cara mereka membawaku pada banyak kesimpulan positif.

Maka aku mengutuki diriku sendiri karena pernah menilai kehidupan semacam yang mereka kerjakan itu salah. Mereka tidak salah, memang tidak ada yang salah dengan yang mereka kerjakan. Toh mereka siap dengan pandangan orang tentang manusia-manusia yang betah melek menghabiskan malam di ruang hampa. Sering kali, bagiku, mereka adalah guru kehidupan. Orang-orang yang mencari diri mereka melalui medan berduri. Mereka lebih menghargai arti 'percaya', 'persahabatan', dan 'kesetiaan', serta 'penghargaan' dari orang-orang kebanyakan. Loyalitas mereka, jangan ditanya! Mereka adalah manusia-manusia terbaik Tuhan yang mengajariku menghargai orang lain. Meski kelihatannya mereka yang lupa menghargai diri mereka sendiri.

Maka terima kasih buat kalian, dan kehidupan yang kalian tunjukkan. Terima kasih kalian memberi aku kebebasan memilih. Dan kalian sama sekali, sama sekali tidak pernah menyeretku masuk mengikuti alur kalian. Hebat!

Siapapun yang membaca tulisanku di atas: sebelum memutuskan untuk berkesimpulan, ingatlah bahwa selalu ada kebaikan di setiap makhluk Tuhan.

Senin, 04 Juli 2011


Pengarang : Devania Annesya
Tahun terbit : 2011
Tebal buku : 186 halaman
Penerbit : Andi
Harga buku : Rp 28.000,-



Cinta, bagi Aurelia Aurita atau Aurel, adalah sesuatu yang membingungkan. Cinta pertama yang dia curahkan buat orang yang dia sayangi tak bahagia. Karena itulah, Aurel memutuskan tidak jatuh cinta lagi dengan pria mana pun. Dia juga memasang sederet criteria untuk calon pendamping hidupnya kelak. Tujuannya, dia tak terjatuh lagi dalam kehidupan asmaranya.
Namun apa mau dikata. Saat panah cupid menembus hatinya, Aurel pun akhirnya jatuh cinta lagi. Hal itu terjadi ketika dia dan teman-temannya sedang liburan bersama. Saat sedang berjalan-jalan sendirian, Aurel tak sengaja mendapati seorang cewek cantik meronta-ronta di tengah danau.
Cewek itu hampir tenggelam. Serta merta Aurel langsung berteriak-teriak mencari bantuan. Seketika itu juga sesosok cowo tampan berbadan tegap masuk ke dalam danau dan berenang selincah ikan menyelamatkan cewek tadi. Setelah beberapa saat kemudian, Aurel baru tahu bahwa keduanya kakak beradik.
Cowok yang barusan menyelamatkan adiknya itu telah membuat Aurel jatuh hati. Namanya Daniel Radyansyah. Cowok yang dingin, namun dapat membuatnya merasa hangat. Setelah kejadian itu, Aurel dan Daniel menjadi semakin dekat. Daniel pun merasakan perasaan yang sama pada Aurel.
Daniel juga hampir memenuhi semua criteria calon suami yang diidamkan Aurel. Sayang, terkadang Aurel masih suka gengsi mengakui segala kelebihan Daniel. Saat keduanya tengah merajut kisah kasih, tiba-tiba cinta pertama Aurel di masa lalu datang kembali.
Arlodi adalah cowok yang menjadi orang ketiga dalam hubungan Aurel dan Daniel. Cowok usil itu ternyata masih menyimpan perasaan yang buat Aurel. Hal inilah yang membuat Aurel bimbang. Saat bersama Daniel, dia merasa menemukan pilihan yang tepat. Namun saat Arlodi di sisinya, Aurel merasa cinta lamanya yang pupus seakan dapat dimulai lagi.
Di tengah kebimbangan itu, masalah lain terjadi. Ayah Daniel tidak menyetujui hubungan Aurel dan putranya. Semua itu membuat balada cinta Aurel makin berwarna. Aurel pun berharap jadi ubur-ubur yang bisa kabur dari masalah dan memilih satu lelaki terbaik. (cin/c9/kkn)
Cuek cuek tapi Butuh
Novel Ubur ubur Kabur yang menjadi buku utama Bookclub kali ini sukses memancing tawa bookaholic yang tediri atas Ochi, Nicky, Acil, dan Putri. Saat berdiskusi, mereka tak henti-hentinya tergelak menanggapi kisah cinta segi tiga si tokoh utama utama.
“Menurut aku, si Aurel ini sebenarnya juga suka sama Daniel. Hanya dia gengsi. Cuek-cuek butuh gitu deh,“ ujar Ochi mengawali pembicaraan. Aurel yang dimaksud Ochi adalah tokoh utama novel itu. Aurel punya nama panjang Aurelia Aurita (nama ilmiah ubur-ubur). Dia adalah cewek yang tidak pernah pacaran.
Dasarnya, Aurel merupakan gadis yang memiliki prinsip kuat. Dia berprinsip harus mendapatkan pendamping hidup yang pas di hati dan bisa menjaga dirinya. Sayang, selama 22 tahun hidupnya, dia belum pernah bertemu dengan cowok idaman.
Suatu hari, Aurel dipertemukan dengan Daniel Radyansyah. Cowok itu membawa Aurel ke cerita cinta penuh kejutan. Daniel digambarkan sebagai cowok cool, penyabar, ,apa, serta penuh tanggung jawab. Daniel menjadi tokoh favorit para bookaholic cowok.
“Aku suka sama tokoh Daniel. Dia punya karakter yang tegas dan simpatik. Dia beda sama Arlodi yang suka mengganggu,“ ujar Acil. Arlodi adalah cinta pertama Aurel pada masa lalu. Saat Aurel dan Daniel mulai dekat, Arlodi datang dan mengganggu hubungan keduanya.
Pendapat Acil langsung disetujui Dicky. Cowok ramah itu sepakat untuk menolak sikap usil Arlodi. Uniknya, dia juga sebel sama sikap Aurel yang terkesan nggak punya pendirian.
“Si Aurel ini kok kayak masih belum yakin sama perasaannya ya? Habis, dia kadang suka Daniel, kadang suka Arlodi. Kesannya plinplan gitu,” papar Dicky.
Pendapat Dicky disanggah Nicky. Menurut Nicky, Aurel pasti punya alasan yang kuat kenapa bersikap demikian. Selidik punya selidik, ternyata, Nicky pernah lho merasakan cinta segit tiga, seperti yang dialami Aurel. Wah, curhat colongan nih, hihihi…
“Hehehe… sebenarnya sih bukan curhat colongan. Menurut aku, semua orang pasti punya alasan kenapa sampai bisa bersikap bimbang seperti itu. Aku sih lebih milih Daniel daripada Arlodi,” jelas Nicky.
Kalau Acil nggak suka karena nyebelin, kali ini Nicky punya alasan sendiri. “Aku tuh sebel sama Arlodi karena namanya sama sekali nggak menarik. Nama kok kayak jam aja, arloji. Hahaha…” tuturnya. Para bookaholic pun terbahak saat mendengar celoteh Nicky.
Putrid yang sejak tadi diam nggakk mau ketinggalan comment. Dia menanggapi sifat perfeksionis Aurel dengan sudut pandang yang bijak. Terutama dalam memilih pendamping hidup.
“Sayang, cinta nggak melulu bisa dimengerti secara logika dan lebih menuruti kata hati. Jadi, sebaiknya kita menggunakan dua hal itu jika nanti ingin mencari cinta sejati,“ jelas Putri. Jawaban Putri dibalas bookaholic lainnya dengan sahutan, “Cieeeee…“ (cin/c12/kkn)

“Overall, ceritanya nggak mengurangi keasyikan baca novel ini kok. Aku paling suka deskripsi tokohnya yang sangat detail.” (Putri Ayu S., ITS → memberi skor 4 dari 5)

“Novel ini bagus dari segi cerita dan gaya bahasa. Meski ceritanya klise, pengarangnya bisa bikin novel jadi nggak boring.“ (Dicky Setiawan, SMAN 20 Sby → memberi skor 4 dari 5)

“Ceritanya simpel dan klise. Cinta segitiga kan emang sering terjadi dalam kehidupan kita. Pengarangnya anak muda banget.” (Rossyta Wahyutiar, SMAN 4 Sby→ memberi skor5 dari 5)

“Meski berserita tentang cinta, novel ini menyelipkan humor-humor segar. Aku suka sama tokoh Daniel. Dia itu cool.” (Jarul Maksum, SMAN 15 Sby)

“Judulnya bikin aku tertarik. Pas membaca, aku jadi merasa kayak tokoh utma. Aku juga pernah mengalami kisah seperti si Aurel.” (Nicky Y., SMA Muh 2 Sby)

Diambil dari:
RESENSI JAWA POS SENIN, 31 JANUARI 2011 (BOOK CLUB, HALAMAN 38)

Kamis, 12 Agustus 2010

Sekelumit cerita menggelikan...

Beberapa waktu lalu aku pergi ke Jogja bersama salah satu temanku, Muti. Alasannya, aku pengen ketemu semua teman – temanku Puta, Anggi, Sasa. Ternyata sama saja denganku, yang lain terjerembab dalam kesibukan kalau sudah ngomong soal kampus. Sepertinya aku harus terbiasa dengan keadaan seperti itu, yang mungkin akan lebih sering aku temui di kehidupan – kehidupan berikutnya. Jadi, aku hanya bertemu the only one Puta di sana.

Malam pertama kami datang, Puta disibukkan dengan les Bahasa Inggrisnya yang lagi dalam tahap ujian. Dengan serba nekad Puta merelakan Beat-nya dikendarai dua manusia buta arah yang mencoba mencari hiburan di Malioboro, dengan berbekal peta yang digambarnya di tissue Yogchick.

So, hanya satu saja bekalku, bismillahirahmanirrahim.
Kami tiba dengan selamat meskipun pulang dengan penuh cobaan. Ketololanku teruji ketika di lampu merah aku menanyai keluarga yang sedang berhenti di sisi kiriku.
”Bu, Kaliurang itu jalannya ke mana?” dengan mimik penuh tanda tanya, yang melebihi mimik mukaku yang lagi bingung, ibu itu menjelaskan arah yang aku tanyakan. Sedikit janggal ketika si ibu menyebut RS Jiwa. Nah, lo, pasti dikiranya aku malem – malem mau klayapan ke Kaliurang, trus check in bareng cowok, dan threesome di sana dengan partnerku yang notabene seekor perempuan yang sedang duduk di sadel belakangku. Akan lebih aman kalau tadi aku nanya arah ke Yonif saja.

Ketololan kedua terjadi di Trans Jogja keesokan harinya. Setelah menerima kenyataan kraton tutup jam setengah dua, kami segera mbecak pulang dengan kepiluan yang mendalam (viva hiperbola...). Kami masuk ke shalter di depan Taman Pintar. Awalnya, semua tampak damai, sampai akhirnya masuklah segerombolan orang bertindik di mana – mana (kuping, hidung, bibir, udel juga kali), rambut dan baju yang kelihatan dekil, dan sumpah bau. Yep, anak punk. Ada beberapa cowok dan dua cewek yang tiba – tiba memenuhi halte. Dan sepertinya mereka bakal jadi parfum di bus sepanjang perjalanan karena rute mereka dengan arah kami pulang sama. Bus datang dan aku langsung melompat ke dalam, mencari tempat duduk buat aku dan Muti. Di sini kesalahannya, harusnya aku ngebiarin mereka duduk. Karena baru aku sadari mereka bakal berdiri kalau kursi penuh, dan this is it... salah satu dari mereka yang kupingnya berlobang gede banget berdiri tepat di depanku dengan perut yang segede hoohaa dan ketek bau kingkong, menebar aroma kematian ke seluruh penjuru bus. Pemberhentian berikutnya beberapa orang di kursi turun, dan aku segera minta si perut hoohaa duduk di kursiku dan aku pindah duduk di depannya. Thanks for saving me from hell, God. Aku pikir semua akan segera berakhir. Akhirnya aku tahu cobaan belum berakhir setelah salah seorang dari mereka menanyaiku.
”Mbak, asli mana?”
berharap ini tidak berlanjut aku bilang, ”Palembang,” dan berhasil. Si penanya diam, sampai tiba – tiba seseorang di sampingku mulai bersuara, ”Plembang Yu? Wong kito galok?Blablablebbleb...,”
Dan habislah Dianti! Anak punk di sebelahku ternyata orang Palembang dan terus aja ngoceh dalam bahasa ibu-nya yang sama sekali nggak ku pahami, lah aku kan Cuma ngaku – ngaku, wong aku asli Jowo-Madura.
Di salah satu pemberhentian deket UNY, mereka turun... Saya berjanji tidak akan menggunakan jurus seperti itu lagi, kapok ketauan bo'ong.

The last thing
Sebelum balik ke negeriku tercinta, aku memutuskan mampir dulu ke Solo, pengennya sih bertemu kawan di sana. Dari stasiun Tugu, aku beli tiket komuter yang orang - orang sebut PRAMEX!! Aku datang kesiangan, karena Pramex pertama udah berangkat beberapa puluh menit sebelumnya dan kesiangan juga, karena Pramex berikutnya baru berangkat setengah 9. Karena masih satu setengah jam, aku dan Puta duduk - duduk di peron stasiun, ngobrol ngalor ngidul sampai akhirnya muncul komuter dengan warna kuning dan aku bilang sama Puta, "Ta, komuternya imut ya. Ini Pramex bukan sih?"
"Bukan, ini kan Prambanan Ekspress, kereta kamu belom dateng,"
dan obrolan pun berlanjut kemana - mana sampai pada gagasan memberi Puta pengalaman naik kereta api, karena, menurut pengakuan dia sendiri, dia belum pernah naik kereta. Pitty...
Kereta kuning itu berhenti cukup lama di salah satu jalur di depan kamu, dan berangkat tepat pukul setengah sembilan. Tanpa rasa curiga aku memandangi kereta itu bergerak pergi meninggalkan stasiun.
Kami baru menyadari ada yang aneh setelah dua jam menunggu keretaku belum datang juga. Tiba - tiba seperti ada komet yang lewat di kepalaku, "Puta, jangan bilang, Pramex means Prambanan Express...," muka Puta langsung berubah aneh, serasa disadarkan dari kesotoyan...

Oke, setelah menyadari aku membiarkan keretaku pergi tanpa kunaiki, aku membeli tiket lagi sehingga tiket perjalanan pulangku dua kali lebih mahal dari niat suci berhemat yang telah direncanakan...

I can make an easy thing become complicated, this is me...