Jumat, 18 April 2014

Tujuan ini hanya untuk berbagi yaa… Dari perspektif aku sebagai penggemar GoT.

Mengapa aku begitu tergila – gila dengan GoT? Paling mendasari ketertarikanku adalah aku suka kisah peperangan, konspirasi, perebutan tahta, dan hal - hal yang sifatnya gain power. Perilaku seseorang dalam berpolitik untuk berkuasa atas yang lain menjadi menarik karena mereka bisa sampai pada level nggak masuk akal dalam perjuangannya. Semua halal dalam berpolitik. Menipu, membunuh, meracun, mengkhianati, dan sebagainya yang kotor - kotor berdampingan dengan yang bersih seperti diplomasi, kerjasama, perjanjian, dan sebagainya. Keduanya tidak akan berpisah. Tidak ada yang murni dalam gain power.

Sesungguhnya ini bukan yang pertama aku tertarik sama buku yang kemudian diangkat menjadi film atau whatsoever.
Dulu aku pernah tergila – gila dengan Harry Potter. Karena masih SD dan duit jajan cekak, plus nggak bakal diijinkan beli buku yang harganya lumayan nempeleng saat itu sama Ibuk, akhirnya aku cuma bisa minjem temen. Aku termasuk yang setia membaca hingga bukunya yang terakhir. Lebih happy lagi pas filmnya mulai release.

Kebalikan dari Harry Potter, di GoT aku mengikuti serialnya dulu dan sampai sekarang belum pernah beli bukunya. Hahaha… Tapi aku punya alasan buat ga hunting bukunya dulu.
Pertama, plot GoT yang kompleks dan nggak mudah ditebak bikin aku ngerasa eman alias sayang lah kalau udah baca duluan di buku. Jadi aku menikmati terjebak dalam setiap dugaan dan menerima kejutan – kejutan yang menggugurkan tebakanku terhadap suatu plot. Sudah nggak keitung sih berapa kali aku kecewa karena harapanku nggak sejalan dengan pikiran George RR. Martin.

Kedua, aku gampang puas dengan sesuatu yang aku nilai sudah cukup keren dan definitif. Misalnya latarnya: di tempat bersalju, hutan, kastilnya, de el el. Agak khawatir kalau nanti aku baca bukunya, dan pendefinisian  lebih oke dari scene-nya, aku bakal kecewa. Di Harry Potter, aku puas dengan semua setting, plot, dan penggambaran karakternya. Nah, pas di buku ke – 5, filmnya rada – rada syampahhh… Bagiku kurang menjawab persepsiku seperti yang diulas di bukunya.

Balik lagi tentang kisah di GoT. Aku kasih jempol empat buat pengarangnya yang telah dengan tekun mengatur plot dan menentukan karakter tokoh yang bermain di setiap kejadian. Sifat – sifat yang kompleks yang dimiliki hampir semua tokoh. Mr. Martin ingin menyampaikan bahwa di setiap tubuh manusia terdapat sifat baik dan buruk. Sifat baik yang mendominasi sifat buruk. Maupun sifat buruk yang muncul karena tujuan yang baik. Jadi di situ nggak ada tokoh yang baiiiiik banget, Kalau jahat banget sih ada. Masing – masing karakter digambarkan dengan sifat manusiawi yang dimiliki seseorang, yaitu baik dan buruk.

Lalu soal siapa tokoh utama dalam GoT. Aku jawab, tidak ada. Semua tokoh memiliki peran sentral di plot masing – masing. Sampai sekarang belum jelas GoT telah sedang akan mengarah kepada siapa. Setiap tokoh berkisah tentang perjalanan masing – masing, ambisi masing – masing, dan belum jelas siapa yang paling mungkin menduduki iron throne.

Dan siapakah tokoh favoritku? Pada mulanya tentu yang paling diekspos di season 1: Ned Stark, Lord of Winterfell. Lalu, dia dipancung. Hancur banget rasanya dia mati secepat itu. Tapi kematian dia menandai naiknya konflik di Westeros. Kemudian aku jatuh hati pada Lady Stark. Ia pun berakhir dengan mengerikan. Pertama kalinya dalam hidup, nonton adegan kematian hingga badan gemetar. Lalu saking terguncangnya, lari ke toilet terus nangis, seolah – olah yang barusan aku tonton beneran terjadi di hidupku. Aku nggak bilang ini reaksi common ya. Tapi, karena dia tokoh favoritku, plot dia dihabisi emang mengerikan sih. Efeknya, aku nggak pernah berhasil mensugesti diriku bahwa Raid 2 itu sadis. Hahaha…Setelah itu aku trauma dan nggak mau mengagumi siapapun. Aku sudah terguncang dua kali, dan itu cukup bikin kapok. Suatu hari aku cari – cari reviewnya tentang kematian Lady Stark di Youtube. Ternyata banyak juga loh yang mendokumentasikan kegemparan nonton episode akhir season 3 itu.

Terlalu mudah menghabisi nyawa seseorang di GoT. Namun itu bikin aku jadi rileks sih nontonnya, plus lebih legowo dan woles menghadapi plot demi plot. Karena siapapun yang berkuasa bisa jatuh, siapapun yang jahat atau baik bisa mati. Balik lagi sih, namanya juga manusia. Setelah itu aku mencoba mencintai semua karakter. Sampai tulisan ini dibuat, aku mulai mengagumi Daenerys Targaryen yang sedang mencari – cari tipe kepemimpinan apa yang sesuai dengan dirinya sebelum dia berhasil menguasai King’s Landing suatu hari nanti. Dia belajar semua itu murni dari pengalaman dia selama berjuang mencari pengikut. Eh eh eh…

Last, ulasan ini ditulis dalam kondisi aku belum pernah baca bukunya. Means, aku tidak bermaksud spoiling karena yang aku ulas masih seputar 3 seasons yang sudah ditayangkan. Aku nggak bahas yang ke – 4 karena memang baru sampai episode 3.

Rencananya setelah season 4 selesai, aku baru beli bukunya. Telat ya… No problem.
Klan pertama yang akan aku bahas adalah House Targaryen, klan favoritku.  Yeah, Rock!!!
Mari kita mulai dengan melihat peta. Targaryen berasal dari sebuah pulau kecil yang disebut Valyria di sisi timur benua Essos. Ciri fisik orang Valyria sempurna uniknya: berkulit putih pualam, mata berwarna ungu atau biru menawan, dengan rambut silver blonde. Di sana susah cari yang mukanya pas - pasan. Mereka juga terkenal dengan kemampuan sihir dan mantra – mantra. Dan dengan mantra tersebut, mereka menjadi satu – satunya klan yang mampu menjinakkan naga dan memanfaatkannya untuk menginvasi wilayah lain.

Perhatikan yang dilingkari merah, that's Valyria

Nah, Valyria pun terkenal sebagai penghasil besi (Valyrian Steel) yang mampu menghasilkan pedang dengan tebasan terbaik karena dibuat dengan bantuan sihir. Di GoT diceritakan bahwa beberapa kesatria di Seven Kingdoms memiliki pedang yang terbuat dari besi Valyria, namun tidak ada satupun yang tahu bagaimana cara mendapatkan besi Valyria lagi sejak peristiwa Doom of Valyria. Salah satu yang punya pedang itu adalah Ned Stark, Lord of Winterfell.

Lalu bagaimana kisah Aegon Targaryen/ Aegon the Dragon/ Aegon the Conqueror mampu menguasai Westeros? Semua bermula dari dikuasainya Dragonstone oleh keluarga Targaryen, yang berpindah dari Valyria sebelum terjadinya Doom of Valyria. Mereka hijrah pada tahun 200 Before Aegon’s Landing (BAL), ini sebutan tahun yang dipakai di GoT. Kalau yang kita pakai Before Christ (BC). Pada tahun 100 BAL, wilayah Valyria hancur lebur oleh letusan dahsyat gunung berapi. Seluruh naga dan keturunan Valyria tewas, atau kamu bisa sebut mereka punah; kecuali Aegon yang menguasai Dragonstone. Aegon menikahi dua gadis dari keluarganya sendiri yaitu Visenya dan Rhaenys sesuai tradisi Targaryen.




Ambisinya untuk menaklukkan Westeros membawa mereka mendarat di Blackwater Rush  (bibir pantai nggak jauh dari King's Landing) bersama tiga naganya Vhagar, Meraxes, dan Balerion the Black Dread. Mereka menghancurleburkan wilayah itu dan menundukkan enam dari tujuh klan, hanya Dorne yang enggan tunduk. Empat ribu tubuh mati terbakar dalam invasi tersebut. Tahun penyerangan tersebut menandai berlakunya tahun Aegon’s Landing.
Nah, sigil dari House of Targaryen, yaitu 3 kepala naga yang merupakan Aegon, Visenya, dan Rhaenys (ketiganya adalah dragon rider) yang menaklukkan Westeros. Targaryen: FIRE AND BLOOD. Keren ya... :')



Setelah kependudukan Aegon the Conqueror, Westeros dibagi menjadi: House Baratheon di Stormlands, House Lannister di Casteryl Rock, House Stark di wilayah utara (Winterfell dan sekitarnya), House Grejoy di Iron Islands, dan House Tully di Riverlands.

Lalu tentang the iron throne. Sudah lihat kan bagaimana bentuknya? Terdiri dari ribuan pedang yang disusun menjadi kursi. Jadi, ketika Aegon menundukkan Westeros. Aegon mengumpulkan ribuan pedang musuh - musuhnya dan disatukan dengan api naga Balerion the Black Dread. Dari bentuknya sudah pasti kursi itu nggak menawarkan kenyamanan. Tapi Aegon membuat dengan bentuk seperti itu dengan filosofi: No king should ever seated easily.


Klan Targaryen menguasai Westeros hingga 300 tahun, yaitu pada saat Aerys - the Mad King - Targaeryen berkuasa. Dalam sejarah raja Westeros, dia adalah raja yang paling nggak masuk akal. Dia sangat senang melihat benda terbakar. Yap, semacam pyromaniac. Kalimat yang terkenal darinya adalah 'burn them all!'. Oh, what a mad! Mad King menikah dengan saudaranya dan memiliki putra Rhaegar, Viserys, dan Daenerys Targaryen.

Tentang anak pertama Mad King, Rhaegar Targaryen. Ia terkenal charming, namun menjemput ajal dengan tragis di tangan Robert Baratheon pada masa Robert's Rebellion yang terjadi karena dipicu oleh hubungan gelap Rhaegar (yang sudah beristri Ellia Martell) dengan Liana Stark (saudara perempuan dari Ned Stark) yang pada saat itu akan dinikahkan dengan Roberth Baratheon. Di waktu yang sama, House of Lannister menyerang King's Landing, dan Jaime Lannister, putra Lord Tywin Lannister, which is seorang Kingsguard menusuk Mad King dari belakang. Sedangkan putra putri keturunan Targaryen dibantai atas perintah Tywin Lannister, dan Ellia Martell diperkosa lalu dibelah tubuhnya oleh The Mount, tangan kanan Lord Tywin.




Viserys dan Daenerys Targaryen diselamatkan dengan menyebrangi The Narrow Sea menuju Essos. Di GoT, kamu akan menyaksikan keduanya sudah dewasa dan sedang mencari cara untuk merebut kembali iron throne yang dikuasai oleh Robert Baratheon. GoT menceritakan perjuangan mereka, terutama DaenerysTargaryen dalam menghimpun pasukan untuk menginvasi Westeros.

[2]
Aku sudah kebelet pengen berbagi tentang Game of Throne (GoT). Kalau kamu punya TV kabel di rumah, GoT adalah serial drama fantasi yang ditayangkan di HBO. Kalau Indosiar punya drama kolosal naik elang, HBO punya GoT. Tapi keduanya nggak bisa dibandingkan, please jangan.

Nah, GoT diangkat dari novel dengan plot dahsyat karangan George RR Martin dengan judul yang sama. Berkisah tentang perebutan kontrol kekuasaan oleh klan – klan kuno yang disebut dengan awalan house di belahan bumi utara. Sampai sekarang, GoT sudah memfilmkan tiga season, dan season 4 baru saja di mulai awal April ini.

Sebaiknya semua diawali dengan pengenalan wilayah. So, tujuh klan (Seven Kingdoms) ini menguasai hampir seluruh daratan yang disebut Westeros. Sebutan Seven Kingdoms mengacu pada penguasa - penguasa di wilayah tersebut yang dikontrol oleh raja di King's Landing, ibu kota Westeros. Tujuh kerajaan itu: Kingdom of the North, Kingdom of Mountain and Vale, Kongdom of the Isles and Rivers, Kongdom of the Rock, Kingdom of the Reach, Kingdom of the Stormland, san Dorne.



Kalau kamu sudah mulai mengikuri serialnya, di pendahuluannya selalu ditampilkan peta diiringi dengan OST karya Ramin Djawali. Jangan skip bagian itu. Karena peta itu memberi kamu guidance tentang di mana saja episode tersebut akan mengambil latar.


Berikutnya akan ada penjelasan mengenai klan - klan yang bertarung dalam perebutan throne di season 1 - 3.

Ingin tahu lebih detail: http://awoiaf.westeros.org/index.php/Seven_Kingdoms 

[1]

Selasa, 01 April 2014

Langit kota sudah mulai gelap. Saya sedang berkendara pulang. Pekerjaan hari ini begitu - begitu saja. Saya melamun saat berhenti di lampu merah. Kebiasaan saya saat di jalan adalah membayangkan hal - hal yang mengerikan, misalnya jika kecelakaan terjadi antara mobil di depan saya dengan motor di sebelahnya, atau mungkin dengan saya sendiri. Mungkin karena terlalu sering melihat kecelakaan di depan mata. Jadilah membayangkan hal semacam itu lumrah. Tapi entah mengapa tiba - tiba saya sadar, bahwa membayangkan kematian itu mengerikan. Bayangkan jika seseorang meninggal dunia, artinya kita sampai kapanpun tidak bisa berbicara dua arah lagi dengannya, dan buat saya itu mengerikan (beberapa orang mengatakan kita tetap bisa berkomunikasi dengan mereka, sayangnya saya belum tahu bagaimana caranya). Bayangkan jika hanya bisa melukis bayangan mereka dalam pikiran, apa yang lebih indah selain bisa melihat wujudnya. Iya bukan?

Dan lamunan saya, mungkin adalah pertanda.

Saya sudah terbiasa mendengar kabar kematian orang - orang di sekeliling saya. Namun kali ini, beda. Karena tiba - tiba saja, saya tidak akan pernah berbicara lagi dengan salah satu orang baik yang pernah saya kenal. Dani. 

Nur Hamdani Hasan. Meninggal tanggal 3 Maret 2014. Sekarang dia mewujud sebagai kenangan. Saya masih bisa mengenang riang dan ramahnya. Gelak tawanya yang menggelegar. Gaya rambutnya yang dikuncir kecil ke belakang, sedangkan bagian bawahnya dicukur tipis, mirip gaya rambut samurai.

Pacar saya memanggilnya satpam. Apa lagi kalau bukan karena body nya yang tinggi besar dan tampang sangarnya. Dia adalah figur mahasiswa yang aktif berorganisasi. Di AIESEC, entah berapa kali dia mengambil posisi kepanitiaan, sudah tidak terhitung. Dia bahkan mau membantu sebisanya meskipun itu bukan acara timnya. Di kampus,  dia pernah menduduki posisi di BEM. Dia pernah mencalonkan diri sebagai kahima, yang kemudian gagal. Namun, langkahnya tidak pernah surut. Dani adalah Dani si ceria, si lucu, dan si pengkritik pedas terhadap semua hal yang tidak sebagaimana mestinya.

Tentu tidak ada yang menyangka, kepulangannya ke Bulukumba kali ini adalah untuk yang terakhir. Dia tidak pernah kembali. Tidak akan pernah. Jasadnya mengapung di kolam siang itu. Di sana, dia sedang bekerja memperbaiki kolam ikan miliknya. Dia akan memindahkan pompa air merk National - nya ke tempat lain, karena dirasa telah 19 tahun 'bekerja keras'. Aliran listrik pompa air itu yang membuatnya meninggalkan kami semua.




Besok, 30 hari sudah dia pergi.

Dani, akan ada saatnya kita berjumpa lagi. Berbahagialah di sana. Tetaplah bertingka polah luar biasa seperti di sini. Berteriaklah yang lantang jika memang ada yang keliru, sama seperti saat kamu di sini.



See u soon, Dani...
We all love you, and always will be...

Sabtu, 29 Maret 2014

Kalau duniamu yang sekarang berhenti menawarkanmu kebahagiaan, mana mungkin kamu tidak pergi, eh?
Ibaratnya kamu diijinkan tinggal di dalam rumah setelah bertahun menggelandang di jalanan. Namun di dalam rumah itu kamu disiksa, tidak dipedulikan, diperas tenaganya... Siapa yang mau hidup begitu?

Siapapun yang masuk ke rumah itu, pasti membawa segudang mimpi dan harapan untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Lihatlah pilar-pilar itu kokoh berdiri dengan angkuhnya. Menawarkan perlindungan dan diwaktu yang sama mengancam siapapun yang tidak bernaung di bawahnya. Siapa yang tidak gemetar mendengar nama besarnya. Seluruh negara tahu siapa dia.

Kami pun begitu, dengan polosnya menerobos masuk. Bangga menyaksikan keadaan luar dari balik jendela sambil berkata, "Saya sudah aman sekarang."
Dijamu dengan jaminan keamanan dan janji kesejahteraan di sana sini, kami mengabdi dengan tulus. Hanya untuk membuat kami tetap diterima dengan ramah di ruang-ruangnya.

Dan tahukah kamu keramah-tamahan adalah bentuk kebohongan terbesar. Ketulusan adalah wujud keramahan yang sesungguhnya. Maka jangan pernah percaya pada mulut manis yang menawarkan dunia bertabur bintang. Jika sungguh bintang yang cahayanya indah di atas kepalamu itu terjun ke bumi, wujudnya akan menjadi mengerikan, dan, meluluhlantakan tanah tempatmu berpijak. Apa yang kamu yakini sebagai cahaya sebenarnya adalah batu yang setara luasnya dengan satu kecamatan di Surabaya.

Nilai keyakinan tidak pernah hakiki. Yang kita yakini benar tadi pagi, bisa menjadi salah beberapa saat nanti. Begitu juga sebaliknya. Seperti halnya sekarang, aku sudah tidak lagi mempercayakan keamanan diriku kepada rumah itu. Aku pamit ya...


Kamis, 13 Maret 2014


"Kamu dulu kuliah apa, Dianti?" tanya klien saya, Pak Candra kepada saya suatu pagi ketika beliau berkunjung ke kantor.
"HI, Pak."
"Kok bisa kamu kerja di properti? Apa rencanamu dulu begitu?"
"Nggak, Pak. Saya sih maunya S2."

Beliau bersandar, lalu melanjutkan,"Mau ke mana setelah S2? Kemenlu?"
"Sampai sekarang saya nggak kepikiran Kemenlu, Pak. Saya lebih berminat organisasi internasional sih."
"Kenapa?"
Saya mulai berpikir sedang diwawancarai Najwa Sihab, "Jadi begini, Pak," saya melanjutkan "Saya percaya nantinya saya akan menikah. Sampai sekarang saya mengkhawatirkan diri saya telat menikah karena mengejar karir. Kalau saya kerja di Jakarta sih nggak masalah, Pak. Nah, kalau saya ditugaskan ke kedutaan atau konjen, beda cerita."
"Kalau kamu di organisasi, nasibmu akan sama to,"
"Paling tidak saya tidak terikat urusan protokoler."
"Begitu ya," katanya sambil mengusap wajah.

"Orang berpikir untuk tidak membuang waktu sewaktu muda. Tapi orang menerjemahkan kalimat itu hanya perihal karir saja. Saya pikir itu nggak bijak, Dianti. Jadi betul, seharusnya orang memanfaatkan waktu sebaik - baiknya dengan tidak membuang - buang waktu yang lain. Mereka pikir akan selalu bahagia kalau karirnya mapan. Belum tentu," beliau melanjutkan, "Itu hanya satu hal saja dalam hidup. Wanita banyak mengejar karir sekarang. Tapi lagi - lagi yang paling penting itu bahagia dulu. Orang sepertimu itu pasti berambisi. Itu bagus. Tapi bagi saya pribadi, wanita kalau sudah punya visi karir yang baik, umumnya egois."
"Betul," jawab saya tanpa menyanggah.

"Keponakan saya, kerja di Cina. Hebat, pikir saya. Lima tahun kemudian dia pulang ke Indonesia. Lima tahun, beli properti di Cina saja dia tidak sanggup. Bagi saya itu buang waktu. Ujung - ujungnya pulang,"
Saya tersenyum sambil terus menyimaknya. "Lima tahun itu, berarti dia kehilangan kesempatan lebih dekat dengan orang tuanya. Di sana dia pegawai sebuah perusahaan besar. Tapi ya pegawai. Pegawai! Apa tidak lebih baik dia jadi owner di perusahaan keluarga? Betul memang perusahaan keluarganya tidak terkenal, tapi lima tahun itu dia menggaji sekian ratus orang dan mengembangkan bisnis. Kita tidak pernah tahu lima tahun itu akan diganjar apa oleh Tuhan. Bisa jadi perusahaan keluarganya bisa lebih hebat dalam lima tahun. Apa itu buang waktu?"
Saya menggelengkan kepala.
"Papanya bilang pada saya, umur sudah makin tua, anak sudah besar - besar. Tapi mau ketemu saja susahnya setengah mati. Kasihan ya,"

Beliau melanjutkan lagi, "Saya tidak tahu istri saya bahagia atau tidak. Saya tidak pernah tanya. Tapi saya pikir dia bahagia. Kasihan sih dia, sekarang jd benar - benar bodoh, baca koran saja tidak sempat. Dia yang memilih jadi ibu rumah tangga, saya sama sekali tidak paksa dia. Dia berhenti jadi notaris. Dia merawat anak - anak sejak bayi sampai sekarang. Anak saya keduanya perempuan, dia yang antar jemput dan mengurus keperluannya. Kami juga tidak punya pembantu, dia yang merawat rumah. Saya tidak pernah diprotes selama ini. Tapi 18 tahun, sekalipun dia tidak pernah bicara soal keinginanya berkarir. Dia sudah memilih."

"Jadi, pilihlah mana yang menurutmu baik, bagimu dan bagi orang sekitarmu."

Semua tentang pilihan...

Selasa, 18 Februari 2014

Menuruti kata hati Mita, teman saya, dan kejenuhan saya di kantor, berangkatlah kami ke Kediri pada hari ke-3 setelah Gunung Kelud meletus. Kami akan mengunjungi pengungsi di kawasan Plosoklaten, Kediri. Mita juga berencana mencari pengasuhnya waktu kecil dulu, Ibu Titik Lestari. Mungkin saja bisa ketemu di pengungsian.

Sama – sama buta arah, modal kami hanya nekad dan berdoa. Agak merasa bersalah juga karena nggak bisa nyetir, jadi Mita yang sepanjang hari nanti akan jadi driver tanpa ada yang menggantikan. Kurang lebih dua jam kami akan berkendara, belum lagi kesasarnya.

Perjalanan kami super smooth. Sudah lama nggak ketemu bikin kami nggak kehabisan bahan untuk dibicarakan. Kangen. Benar-benar kangen Mita. Sejak bekerja, kami sudah sangat jarang bertemu. Berdua saja ke lokasi bencana juga dianggap konyol oleh beberapa kawan.
"Di sana lagi bahaya, ngapain nekad banget kalian?" begitu penolakan teman atas ajakan kami. Kami tetap berangkat. Menurut teman kami yang tinggal di Kediri, bantuan yang mengalir ke lokasi bencana sangat banyak, hanya saja yang menyalurkan sedikit. So we did it for them.

Mita kalau bawa mobil agak-agak ngawur. Si ning nyetirnya salip kiri terus. Mobil sempat diberhentikan polisi di tengah perjalanan. Maksudnya, Pak Polisi sudah menyuruh kami berhenti, tapi kami terobos terus lambaian tangannya. Lalu kami dikejar dengan sepeda motor macam di game 'Road Race'. Tapi percayalah rengekan perempuan itu menyebalkan sekaligus menyelesaikan masalah dengan cepat. Tidak ada sidang, dan SIM dikembalikan. Entah karena Pak Polisi iba atau bete menghadapi Mita yang terus-terusan bilang: "Please Pak, tolong lah Pak, please, please, please,"

“Ah ini cuma ujian, kita pulang ke Surabaya atau tetep tancap gas ke Plosoklaten, hahahaha…” begitulah dia tanpa dosa membenarkan kesalahannya sendiri.


Kami masuk ke Kota Kediri tengah hari. Jarak pandang cukup pendek. Debu berhamburan di udara. Warga masih memakai masker menutup mulut dan hidungnya. Beberapa berjualan masker di pinggir jalan.



Mita & Dianti
Aktifitas warga kota sudah normal. Lalu-lalang kendaraan cukup ramai. Jarak pandang semakin pendek karena debu beterbangan dihempas roda kendaraan. Sebagian besar toko di pinggir jalan utama masih tutup. Ada juga yang 'maksa' berjualan dengan debu yang berhamburan dijalan begini. Murid-murid sekolah sudah beraktifitas seperti biasa. Mereka terlihat baru pulang sekolah siang itu. Wajahnya dihiasi masker untuk menghalau debu yang bercampur dengan udara.


Plosoklaten ditempuh kurang lebih 20 menit dari Kota Kediri. Kami sempat lewat di Simpang Lima Gumul, dan begini penampilan ikon Kediri tersebut, masih diselimuti pasir dan kerikil:


Simpang Lima Gumul

Simpang Lima Gumul

Jalan depan Simpang Lima Gumul

Setelah bertanya beberapa kali, akhirnya masuklah kami ke kawasan PG Djengkol. Warga di kawasan ini terlihat mulai membersihkan rumahnya. Mengeruk pasir dari permukaan atapnya dengan alat bantu dari bambu panjang yang dipasang sekop di ujungnya. Ibu - ibu mengguyur halaman dengan air sebelum mengeruk pasir yang menutup halaman setebal lima sentimeter. Listrik kabarnya baru saja menyala setelah padam beberapa hari.




Warga membersihkan jalan dan rumah


Pengungsi di PG Djengkol dirumahkan di salah satu bangunan besar di area pabrik gula tersebut. Rumah yang ada mobil pick up - nya inilah tempat di mana pengungsi dirumahkan:

Tempat tinggal pengungsi


Saya tidak menggali informasi apa-apa tentang jumlah pengungsi atau dari mana asal mereka. Sungkan. Apalagi harus ngobrol. Saya merasa berhutang jika saya tidak bisa berbuat apa-apa setelah mereka berkeluh-kesah. Ora wani takon.

Di tempat itu Mita tidak berhasil menemukan pengasuhnya. Dia hanya ingat rumah si ibu ada di Plosoklaten, tapi nggak paham di sebelah mana. Data pengungsi tidak merekam namanya. Tidak ada yang kenal nama itu.

Kami segera pulang setelah semua bantuan diturunkan. Jalanan berpasir, debu bercampur dengan udara, dan semua rumah punya gundukan pasir seperti mereka sedang merenovasi huniannya. Kediri sudah mirip Padang Sahara. Satu lagi yang menarik perhatian saya selama perjalanan, ada yang tetap menggelar resepsi pernikahan di tengah terpaan debu pasca meletusnya Gunung Kelud. Salutlah pada mempelai.


Last, bagi teman-teman yang masih ingin menyalurkan bantuan atau turun tangan langsung membantu warga membersihkan lingkungannya, silakan. Sedikit atau banyak bantuanmu bukan jadi masalah. Terpenting bagi mereka adalah kita peduli. Sebelum menyalurkan bantuan, jangan lupa gali informasi wilayah mana yang memerlukan bantuan. It's not only Kediri dear. Ada beberapa desa di Malang dan Blitar yang juga memerlukan bantuan. Go move your ass :*