Rabu, 20 Mei 2015

When I was a child, I used to pray with both eyes closed, my lower jaw locked the upper, and my hands drifted in the air. I did that whenever I wanted something. I played kite, I needed the wind to come so my kite could fly, I closed my eyes tightly until I felt the wind touched my ears.

When I was in exam, because Mom wanted me to be in first rank, I studied like crazy. I woke up at 4 in the morning everyday, turned on my lamp and study. Along with that I wishpered to God: God let me get 100, I want 100, I didn't want to have any mistakes. Then when I again study for exam in the class, I sat on teacher chair and opened up my teacher's book, it was a class daily book anyway. There were few numbers in that book marked with pen, so I read only that innocently. Then, that was the question mentioned in exam. I got 100 after reading it.

Do you think I am lucky?
I was thinking I was a lucky bastard until I read Supernova book. That was the way God speaks in childhood. He was so close and he was really everywhere. In childhood, spoke something to Him wasn't a big deal. Yet, as time goes by, I was too busy about life, distance appeared, and talking to Him is a hard work. For some times, we tried to rethinking about His existance, or redefine our belief.

In childhood, whatever we wanted, we spoke to Him with pure heart like we spoke to Dad and Mom. Or sometimes, because we knew that we couldn't ask it to our parents, then they said, "Ask God".

But it makes God so close. A child never worry about life, unlike adult. Now, when I reach maturity, I came to know that sometimes I worried so much about life. About my purpose, about my track. Was that correct, was that true. How if I failed. How if what I have chosen points me to the wrong way?

My friend said that it was a quarter life crises. When we try to figure out what we have done to our life so far. About value and purpose. About decision. It comes so far into jealousy of people who can be free, without any family reputation responsibility. Having lots of adventure. Having a great job. Creating their own dream.

Now, it is the right time to come back, to childhood view point. For this case, it is a must for me, to use my purity in communicating to Him. Redefine my self, not the God. Make everything smaller about Him getting bigger. His existance is not human business, but human relations towards Him is a business for all in personal space. 

But by writing it here, at least I get a better place to speak...,
to God.

Taken at Sarangan Lake, Magetan, Indonesia. Lovely home.

Selasa, 12 Mei 2015

Assalamuallaikum,
Cina bukan negara yang berada dalam wish list of me, hanya saja beberapa rencana di dalam hidup kita sering kali nggak lebih seru dari rencana Tuhan. Bisa kubayangkan Dia mencoret rencana - rencanaku sambil bilang, " Dasar nggak asyik!" Hahaha, don't be so sensitive, me and Him have private space to share.

Pagi hari pukul 5.30 bangun pagiku dihadiahi pemandangan made in Allah in China, pendar cahaya matahari di kaki langit, Ni Hao Shanghai. Aku menuruni tangga pesawat dengan jaket seadanya, kedinginan sambil menggendong backpack. Pipi rasanya dijejalkan ke dalam freezer. Suhu pagi ini 8 derajat, what an unlucky tropical creature I am. Aku lebih suka megap - megap kepanasan daripada sekuat tenaga menahan dingin dan sibuk ngelap ingus pakai ujung jaket

My 15 hours exhausted look and my tiny outfit
I LOVE THIS CITY!

Shanghai adalah cermin keseriusan pemerintah negeri ini mewujudkan model transportasi yang efisien. Mereka punya subway, maglev, shuttle bus, yang semuanya bermuara di Pudong Airport. Dari ketiganya, aku pilih maglev. Alasannya, AKU LELAH DENGAN SEMUA INI! AKU MAU CEPAT SAMPAI HOTEL LALU TIDUR!!! :D

Aku menunggu dengan sabar di depan loket yang masih tutup, demi bisa merasakan naik kereta dengan kecepatan kurang lebih 400 km/jam menghubungkan Shanghai Pudong International Airport sampai Longyang Road station (jalurnya masih dalam pembangunan). Harga tiket sekali jalan 50 RMB. Diskon 10 RMB bagi yang menunjukkan waktu penerbangan di hari yang sama dengan pembelian tiket. Butuh hanya 8 menit untuk sampai ke stasiun terakhir, memuaskan bagi yang perhitungan soal waktu.
Loketnya belum buka
Waiting room masih sepi
Perjalanan dengan Maglev berhenti di Longyang Road station, kemudian harus lanjut dengan subway atau metro menuju tengah kota, dengan harga tiket yang lebih murah. Dari Pudong airport, kita bisa langsung naik subway LINE 2 (hijau muda) yang menghubungkannya ke Hongqiao airport. Nantinya, penumpang yang naik menuju tengah kota harus ganti Metro LINE 2 di rel sebelahnya setelah sampai di Guanglan Road station.


Maglev


Sempetin!

Jumat, 13 Maret 2015

“Bapak, saya mau foto untuk keperluan visa ke Cina,”
“Silakan ke studio, Dik.”

Ya, dialog seperti ini terjadi di Studio Foto Gaya Indah di Surabaya. Lokasinya di Jalan Kertajaya, kalau dari arah Gubeng lokasinya sebelum Holland Bakery. Istimewanya, studio ini paham ukuran dan jenis foto yang diperlukan untuk mengurus visa berbagai negara. Kalau ke Eropa proporsinya begini, ke Jepang begitu, dan sebagainya. Setelah jeprat – jepret foto bisa dibawa pulang dalam 15 menit.

Setelah itu perjalanan apply visa L (jenis visa untuk turis ke Cina) dimulai.

Chinese Visa Application Service Center (CVASC) adalah pihak yang ditunjuk pemerintah Cina untuk proses pengurusan visa. Jadi bagi yang mau mengurus di Surabaya jangan salah “ketok pintu” ke Konjen Cina. Kantornya di SPAZIO building (arah PTC atau Graha Family), lantai 5. Dari lift belok ke kanan.

Syaratnya begini:

  • Formulir pendaftaran visa diisi lengkap, bisa lewat webnya CVASC atau ditulis tangan dengan huruf kapital. Pada bagian itinerary diisi tiba di kota mana, NAMUN disertai dengan rencana perjalanan dan tempat tinggal selama di Cina mulai dari berangkat dari Surabaya sampai kembali lagi ke Surabaya. Begitu instruksi petugasnya kemarin. "Dikira - kira saja Mbak, tapi jelas di mana tinggalnya," begitu saran petugasnya,
  • Pas foto background putih, again kalau ogah pusing jelasin ke abang tukang fotonya lebih baik ke studio yang paham proporsi untuk visa. Waktu itu cuma perlu satu lembar,
  • Tiket PP menyertakan kode booking dan nama pemohon. Kalau enggan bayar booking dulu, menurut teman, bisa keep penerbangan dulu lewat travel agent. Nanti urusan mau ganti penerbangan atau menyesuaikan jadwal, bisa dibicarakan dengan agennya,
  • Hotel booking selama berada di sana, atau kalau tinggal bersama warga lokal, harus menyertakan invitation letter. Bisa booking lewat www.booking.com pilih hotel dengan opsi bayar belakangan, pembatalan gratis,
  • Copy password halaman yang ada keterangan identitas dan bagian belakang,
  • Copy KTP,
  • Jangan lupa paspor diserahkan kepada petugas (minimal 6 bulan sebelum habis masa berlaku dengan sisa halaman yang memadahi).
Tipsnya supaya lancar: patuhi semua persyaratan, jangan lupa bayar saat pengambilan :D

Selamat bertamasya keliling - keliling Cina, hendak melihat - lihat keramaian yang ada... 



Sabtu, 21 Februari 2015

Ini tulisan pertamaku tentang film. Ada panggilan buat nge-review film ini saking ngena-nya di hati.

PK adalah film produksi India yang mengangkat kritik sosial terhadap fenomena blind follower - dalam bahasa saya - para monk, dibintangi Aamir Khan yang telah membintangi film bertema kritik sosial sebelumnya, dan Anushka Sharma. Mengapa menarik, stay tune sampai akhir tulisan.

The story:

Semesta membentang di luar batas pengetahuan kita. Di luar sana, ada ratusan galaksi yang mirip dengan galaksi tempat bumi kita berada. Di sana bisa saja ada makhluk dengan tata kehidupan seperti kita, dan salah satunya PK (Aamir Khan) hadir di bumi dan tersesat tidak bisa pulang karena remote pemanggil pesawat luar angkasanya dicuri. PK (pikee dalam bahasa Hindi berarti mabuk) terus berusaha berkomunikasi dengan manusia di sekitarnya, mengenal budayanya, dan mempelajari bahasanya untuk mencari remote-nya. Semua orang menyebut, "tanya saja sama Tuhan!" "Tuhan akan menyelesaikan masalahmu!" Tuhan, Tuhan, Tuhan... Siapa Tuhan? Sejak itu dia mencari - cari Tuhan, untuk mendapatkan lagi remote-nya

Dalam pencariannya, dia bertemu Jaggu (Anushka Sharma) seorang reporter TV dengan latar belakang keluarga fanatik. Kepada Jaggu, ia ceritakan pengalamannya diusir dari kuil karena Tuhan tidak memberinya remote setelah menyerahkan persembahan. Lalu dia pergi ke rumah Tuhan yang lain, membawa sesaji, ke dalam gereja. Di sana Tuhan minum wine. Diusir dari tempat itu, dia kembali mencari cara bertemu Tuhan. Dengan membawa wine, dia menuju ke rumah Tuhan terdekat di sekitarnya, masjid. Kembali dia harus dikejar - kejar massa. Dia bingung mengapa Tuhan ada bermacam - macam. Yang satu mengharuskan lepas sandal untuk masuk rumah-Nya, satu lagi harus bersepatu. Yang satu mengharuskan puasa Senin Kamis, yang lain tidak. Yang satu minum wine yang lain melarang. Baginya Tuhan punya konsepsi masing - masing, Dia seperti membuat perusahaan dengan konsep berbeda satu sama lain, lalu menitahkan manajer - manajernya (para biksu, rahib, pemuka agama) untuk menyampaikan visi misi perusahaan-Nya ke bumi.

Hingga pada suatu titik, untuk pertama kalinya dia berjumpa dengan remote yang dicari-cari selama ini, berada di tangan seorang monk lalu disebutnya sebagai Batu Siwa. Pada saat itu dia mulai memahami bahwa beberapa manajer menyampaikan ajaran yang keliru pada umatnya yang juga malas berpikir. Dibantu oleh Jaggu, PK bertemu dengan monk yang memiliki remote-nya dan mulai mendebat logika keliru tentang ajarannya kepada umat. Jaggu mengangkat isu tersebut ke media TV tempatnya bekerja hingga mendapat banyak sekali perhatian dari publik. Akankah remote pemanggilnya kembali?

Fenomena yang diangkat dalam film ini benar terjadi di India. Blind follower menjadi fenomena yang sangat mudah dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, mengatasnamakan dirinya sebagai pemuka agama namun melakukan tindakan yang keliru yang justru merugikan umatnya. Saya mencoba bertanya dengan salah satu teman di sana, dia menyebutkan, bahkan pernah terjadi perkosaan terhadap gadis belia oleh oknum yang mengaku sebagai pemuka agama karena memberikan petuah yang keliru pada masyarakat yang mengikutinya untuk menyerahkan anak gadisnya supaya kehidupannya menjadi lebih baik.

Film tersebut juga mengangkat kritik mengenai toleransi beragama di negara dengan beragam kepercayaan, seperti halnya Indonesia. Kalau boleh dikata, tema besarnya sama dengan film "?" (tanda tanya) insya Allah disutradarai oleh Hanung Bramantyo. 

Dengan dialog cerdas dan sarat kritik, kita akan diajak memahami bagaimana tata kehidupan masyarakat India disandingkan dengan agama yang dianutnya.

Selamat menonton, semoga ada hikmah yang bisa dipetik.




Senin, 29 Desember 2014

Hidupku sebebas ini namun justru membebani. Memang kenapa kalau aku menganggur? Mana yang terpenting, aku bahagia menikmati hidup atau terkurung di belakang meja kerja demi disebut normal karena bekerja setelah kuliah?

Kalau nanti prosesku berakhir indah. Jangan sedih jika aku tak tergapai lagi oleh tanganmu.

Kamis, 18 Desember 2014


Eksotisme tanah Hindustan sudah saya ketahui jauh-jauh hari sebelum terbang ke Delhi. Saat mengurus Visa di Kedutaan Besar India di Jakarta, saya mendapat beberapa majalah pariwisata India, dan most visit places di beberapa provinsi yang berbeda. India memang kaya dengan tempat wisata yang tersebar dari utara dan selatan. Ide berkunjung ke Manali (Himachal Pradesh) muncul ketika kawan-kawan mahasiswa di Delhi menawarkan untuk pergi ke bagian utara India sekedar melihat rangkaian Pegunungan Himalaya, dan tentu saja, bermain salju. Ide yang sangat menyenangkan, terlebih karena saya dan empat teman saya yang sama-sama baru satu bulan di India memutuskan untuk backpacking jorney.

Saya dan empat teman saya tinggal di provinsi yang berbeda. Kami memutuskan untuk bertemu di Delhi. Tiga teman saya memulai perjalanannya dari Baroda (Gujarat) dan saya bersama salah seorang teman memulai perjalanan dari Jaipur (Rajasthan). Perjalanan dari Jaipur ke Delhi yang seharusnya hanya perlu lima jam harus kami tempuh enam jam karena kondisi jalan penghubung dua kota itu sedang dalam pembangunan. Bus kami berhenti di Bikaneer House, terminal pemberhentian khusus untuk bus dari Rajasthan. Akses bus dari dan ke Jaipur memang terbilang mudah, mengingat Jaipur adalah salah satu kota tujuan wisata di India. Perjalanan berikutnya akan kami mulai pada pukul 20.45 waktu setempat dengan angkutan paling murah untuk perjalanan lima belas jam menuju Manali. Setiap orang membayar Rs 500,00 (setara dengan Rp 112500,00). Awalnya saya shock, bus yang kawan-kawan Indonesia di India sebut sebagai bus kambing itu tampilannya memang tidak meyakinkan. Seperti halnya bus tua, jarak antara bangku kiri dan kanan sangat sempit, lorongnya hanya bisa dilalui orang satu per satu. Tapi saya tidak menyangsikan kebolehannya menjelajah rute panjang Delhi-Manali, anggap saja semakin tua semakin banyak pengalamannya. Bus kami malam itu membawa muatan penuh. Lampu warna kuning yang menerangi bus seolah mewakili kesederhanaan perjalanan lima mahasiswa Indonesia dengan kocek yang juga ‘sederhana’. Ramainya orang bercakap-cakap di dalam bus hanya bertahan beberapa jam, setelah itu suasana berangsur-angsur hening, semua orang tertidur.

Setelah tiga jam perjalanan, kami sampai di Chandigarh (Punjab). Semakin ke utara, udara semakin dingin. Saya pikir, bus tidak akan sering-sering berhenti, tak tahunya malam itu bus berhenti berkali-kali, untuk minum cay (teh susu khas India), driver shift, dan kebutuhan kamar mandi. Pukul dua pagi, bus mulai melewati medan berkelok-kelok, entah di daerah mana. Saya hanya menebak-nebak, bus mungkin sudah masuk provinsi Himachal Pradesh. Di luar sangat gelap dan lampu di dalam bus dimatikan. Saya memilih membungkus kaki saya ke dalam sepatu dan menyimpan tangan saya ke dalam saku jaket, hawa dingin semakin terasa, dan saya mulai mengantuk. Matahari belum terlihat saat saya terbangun pukul lima pagi, tanggal 27 Februari 2011. Kondektur bilang, bus akan sampai Manali pukul dua belas siang. Saya menghela napas, membayangkan harus tetap di dalam bus ini sampai tengah hari nanti. Pagi hari bus kami berhenti di Mandi. Perut saya sudah keroncongan, namun kami sepakat untuk tidak makan dulu sebelum sampai Manali, demi menghemat pengeluaran. Kami sudah mulai melihat puncak-puncak gunung yang diselimuti salju setelah meninggalkan Mandi. Bus kami sekali lagi berhenti di Kulu, dan itu menjadi pemberhentian terakhir sebelum mencapai Manali. Saya sudah tidak sabar, ingin cepat sampai dan makan karena kelaparan berat. Perjalanan semakin menyenangkan karena pemandangan tebing dan Pegunungan Himalaya sangat eksotis. Sepanjang jalan kami melihat sungai berbatu dan pohon-pohon yang masih meranggas karena musim dingin. Satu jam sebelum mencapai Manali, kami melewati terowongan gelap dan panjang yang diterangi lampu-lampu kuning di kiri-kanannya. Akhirnya pukul 12.30 waktu setempat, kami sampai di Manali.

Setelah mengisi perut, kami segera mencari penginapan. Kami hanya ingin menyewa satu kamar untuk lima orang. Beberapa orang menawarkan harga kamar yang cukup miring, namun kami belum mau menyerah, kami ingin mencari harga kamar paling murah yang bisa kami sewa. Akhirnya berkat kesabaran salah satu teman mencari informasi, kami mendapat satu kamar dengan harga sewa setara Rp 28.000,00 per orang untuk empat hari sewa. Kami tidur berdesak-desakan di tempat tidur double bad dengan sembilan selimut yang diberikan pemilik penginapan. Malam itu kami tutup dengan makan malam mie instan setelah gagal menemukan restoran yang buka di malam hari di sekitar tempat kami menginap.
Pagi hari tanggal 28 Februari 2011, langit berawan dan cuaca tidak sedingin yang saya bayangkan. Pemilik penginapan mengatakan, semakin berawan langit, udara justru semakin hangat; dan sebaliknya, ketika langit cerah, udara menjadi sangat dingin. Kami menyewa mobil untuk mencapai play ground di Solang Valley. Dengan menyewa mobil seharga Rs 600,00, saya dan teman-teman dapat mencapai lembah yang berjarak dua kilometer dari penginapan. Setelah menyewa sepatu boots dan baju seharga Rs 150,00 kami siap beraksi di atas salju. Wahana permainan yang tersedia sangat banyak, sebagaimana daerah wisata bersalju kebanyakan. Saya sangat tertarik mencoba paragliding. Dengan membayar Rs 500,00 , saya berkesempatan untuk terbang kurang dari lima menit di atas lembah. Perjalanan mendaki ke start spot sangat melelahkan. Saya yang tidak terbiasa mendaki harus berhenti berkali-kali sebelum akhirnya sampai. Berbeda sekali dengan pilot yang membawa saya terbang. Dengan membawa parasut di punggungnya, dia mendaki sambil berlari dan bilang “Joldi chalo!” kepada saya, yang artinya menyuruh saya berjalan lebih cepat. Wajar saja, saya bisa membayangkan dia belasan kali naik turun bukit sebagai konsekuensi pekerjaannya. Meskipun hanya beberapa saat, pengalaman paragliding di Solang Valley sangat menyenangkan. Saya tidak ingin mencoba wahana lainnya karena uang saya semakin menipis. Berikutnya, saya menghabiskan waktu bersama teman-teman senasib saya membuat boneka salju yang saya dandani mirip rapper, berguling-guling di atas salju, dan mengabadikan momen-momen di Solang Valley bersama teman-teman hebat saya.

Kami memutuskan naik bus kelas bisnis menuju Delhi. Sedikit mangkel ternyata harga tiketnya cuma beda Rs 50,00 dari harga bus kambing. Saya senang karena bisa tidur dengan nyaman, dengan seat yang lebih empuk dan suara mesin yang tidak menderu-deru dengan keras. Tidak disangka, kami berlima malah mabuk perjalanan. Saya bahkan harus minum obat masuk angin dua kali. Perut rasanya diaduk-aduk dan kepala pusing luar biasa. Sopir bus mengendarai busnya dengan ugal-ugalan di jalan berkelok-kelok Manali menjuju Chandigarh. Saya kemudian berpikir, memang lebih baik naik bus jelek yang jalannya mau tidak mau harus pelan-pelan, daripada naik bus yang mesinnya lebih bagus, tapi bikin sopir khilaf mengendarainya dengan keut-kebutan. Hasilnya, perjalanan Manali-Delhi dapat kami tempuh dalam waktu 13 jam. Dua jam lebih singkat dari waktu keberangkatan kami menuju Manali.

Overall, saya benar-benar merasakan pengalaman hebat karena berhasil menjelajah provinsi di wilayah utara India dengan harga sangat murah. Semoga cerita nekad saya dan teman-teman dapat menginspirasi pembaca rubrik for her untuk menjelajah tempat-tempat eksotis suatu hari nanti. Dan terima kasih untuk pelajar-pelajar Indonesia di Delhi yang telah merekomendasikan Manali untuk petualangan saya yang sangat singkat di India.

PS:
Rs 1,00 = Rp 225,00

Diterbitkan di Jawa Pos, Kamis, 5 Mei 2011

Kamis, 04 Desember 2014

I got a bit tension in the beginning of the day.

The wave was a bit high that morning. I was scared if my snorkeling plan would be ruined by the weather. I went out from the place I stayed during there and asked the officer for payment process.

"Sorry Mam, cash only."
"You sure you cannot accept debet or credit card?"
"Sorry. Mam, you can take cash from ATM and come back again." So I was looking for one and only ATM in this island by motorcycle. Some souvenir seller yelled me, "WATCHOUT!" everytime the wave came to the edge of the road. Hahaha, that was fun.

Few minutes later I arrived to the ATM with the sign sticked on the door: We are sorry, ATM machine cannot be used now. Shit! I had no more cash!!!

And I was shock it was one and only ATM in Nusa Lembongan island, which also served Nusa Ceningan Island. That was so much different with Gili Trawangan which has ATM service from more than two banks.

I explained to the officer and he was so dissapointed and said,"They are silly! They prepare these islands for tourism and they provide only one machine. And they don't come to refill the cash on it. They put that machine only for display property!"

He asked me to go to money changer. They had EDC machine, so I paid my cash with debet transaction by that machine. And I got 5% charge for the transaction. Damn! It was my first time bought IDR by using debet card.

I paid him then I went to snorkeling spot. We started snorkeling around 1 pm and it was not best time to start it. First, because it's super hot in the afternoon. Second, the water is getting darker along with the sun ups to the west. Third, it made us in hurry since the boat had to arrive to the port before 3pm. The wave would lessened and it made the boat couldn't reach the beach. Better to start it around 10 in the morning, then you will have plenty of time to enjoy unlimited pleasure of underwater world.

I paid for 125K for 3 spots in the island. Baby, make sure you wear life jacket if it's your first time. I told you that because I got my first experience in Lembongan. Safety first! Anyway, I couldn't describe how was that under the sea. But Nusa Lembongan has super colorful fishes and corals with clear water that makes you feel comfortable when doing it.

I sat in the port before 4.30pm. No longer after that, the boat came. Small boat. The fast boat couldn't reach the beach. We were dropped to the fast boat after reaching hondreds meters from the beach. And I came back to main island, Bali. Couldn't be more happy to see ATM everywhere. :')