Rabu, 17 Februari 2016

Adzan Dhuhur menggema di penjuru bandara, sesaat setelah melalui pintu imigrasi. Perjalanan bersama orang tuaku dimulai siang ini, setelah melewati transit yang kelewatan lamanya, berpindah dari Jogja, ke Makassar, ke Medan, akhirnya tibalah di Jeddah.

Pemandangan khas gurun pasir yang terang, berwarna cokelat dan putih, serta bidang – bidang pegunungan batu membatas di berbagai sudut kota. Namun kekayaan negeri gersang ini sudah terasa di lembutnya perjalanan 6 jam menuju Madinah, melalui karpet aspal tanpa bolong.

Lewat waktu Isya’, kami memasuki tanah haram kota Madinah. Ditandai dengan tugu yang jika dari Jeddah, terlihat di sisi kanan tak jauh dari Masjid Bir Ali, tempat Rasulullah pernah mengambil miqot. Mataku tentu menjelajah selayaknya pendatang baru, mengamati payung – payung besar Masjid Nabawi yang selalu dikisahkan orang – orang yang baru pulang berhaji. Udara dingin, membuat para jamaah menggigil. Itulah mengapa sebaiknya jamaah sepuh diberitahukan perkiraan cuaca sebelum berangkat. Jangan hanya sebut dingin, namun sebutlah suhunya, serta ibaratkan akan sedingin apa.

Subuh hari tentu cobaan bagi mereka yang tak bersiap dengan cuaca ekstrim ala padang pasir. Namun demi dapat shalat di dalam Masjid Nabawi, siapapun akan bersemangat berangkat lebih dini ketimbang yang lain. Adzan pukul 4 pagi, jamaah memanfaatkan waktunya untuk shalat malam. Menjelang Subuh, masjid mulai sesak. Hari pertamaku di Nabawi habis untuk mengamati keindahan interior yang sarat polesan emas, lampu gantung besar, dan ceiling bernuansa kuning dan abu.

Petugas kebersihan mulai sibuk mengelap lantai yang basah oleh air zamzam yang mungkin tumpah, atau dipakai berwudhu jamaah. Teriakan laskar meminta jamaah mengisi shaf yang kosong terdengar lantang sebelum shalat dimulai.


Iqama berkumandang, seluruh jamaah berdiri. Menundukkan padangan, melafal niat shalat fardunya. Takbirratul ihram... Dan air mata mengalir perlahan, mendengarkan bacaan shalat yang bersahutan dengan tangis para bayi yang ditinggal sembahyang ibunya.
First visit to Nabawi Mosque

Minggu, 18 Oktober 2015

Perhatikan sekitar kita, Tuhan sering kali menyampaikan pesan implisit yang dititipkan entah kepada makhluk lain atau peristiwa.

Sebuah perayaan hari jadi berlangsung di Universitas Surya Tangerang. Saya hadir karena ditugasi meliput murid yang menerima beasiswa JPNN dari Pak Dahlan Iskan.

Saya kesana tanpa camera man. Seorang diri hanya ditemani sopir dan saya saat itu, sampai sekarang belum bisa multitasking sebagai VJ, mewawancara dan mengoperasikan kamera.

Disitulah pertama kali saya bertemu Ibu Siti Rahmi Utami. Seorang Dekan Fakultas Sosial dan Ekonomi. Saya tipe orang kagetan, yang gampang takjub dengan penampilan seseorang. Begitu juga saat bertemu ibu satu ini, awalnya saya memperhatikan kekurangan fisiknya. Berkursi roda. Kondisinya tidak memungkinkan semua hal ia kerjakan dengan mandiri.

Perspektif saya sirna seketika saat Ibu Tanti, seorang dosen komunikasi yang saya kenal di sana bercerita, disertasi yang dibuat mengantarkan Ibu Siti mendapat gelar best student saat bersekolah di Maastricht School of Management. Penghargaan diserahkan langsung oleh Queen Maxima.

"Saya takut salah omong dikira sombong, Mbak. Wawancara saya tadi tidak terkesan sombong kan?" begitulah. Kerendahan hatinya membuatnya hati - hati sekali bicara soal prestasi.

"Lulus doktor itu sulit sekali Mbak. Jadi saya tidak berharap best student waktu itu. Saya hanya berharap lulus doktor saja sudah cukup. Nggak perlu yang lain - lain."

Dorongan dari keluarga, membuat Ibu Siti semangat bersekolah. Beliau menyadari dengan pendidikan orang berkursi roda sepertinya akan lebih bermanfaat kepada orang banyak. Melalui ilmu dan penelitian.

Secara pribadi,  beliau menorehkan hikmah begitu mendalam. Bahwa apapun yang dipelajari harus dilakukan dengan sungguh - sungguh. Kekurangan fisik bukan hambatan. Pola pikir kita dalam melihat sesuatu lah, yang kerap menjadi dinding penghalang kita menuju akses pengetahuan baru.

Jumat, 16 Oktober 2015

"Mbak, kalau nanti tayang tolong jangan sebut dengan lengkap lokasi kami ya. Besok pasti ada orang buang anjing di depan shelter saya, hahaha...!"

Saya bercakap dengan dokter Susan melalui telepon sore itu. Keesokan harinya saya berkunjung ke rumah penampungan anjing milik beliau di Pejaten. Sesuai permohonannya, silakan cari sendiri alamatnya. Tanggung jawab saya adalah tidak menyebut di sini.

Betul. Dokter Susan. Bukan seorang dokter hewan. Beliau adalah kepala rumah sakit di Bandung. Rasa kasih kepada hewan yang ditelantarkan membuatnya mengumpulkan donasi bersama teman - teman yang lain. Mulanya, untuk membuat sebuah kandang untuk sepuluh ekor anjing. Sekarang, ada 500 ekor anjing yang dirawatnya.

Di antara anjing - anjing di Rumah Penampungan Hewan

"Semua anjing di sini pasti kisahnya kasihan Mbak. Nggak ada yang spesial, sama saja. Semua kasihan." Begitulah ketika saya minta beliau bercerita bagaimana anjing - anjing itu diangkut dari jalan.

Beberapa diselamatkan dari penjagalan. Yang lain, ditinggal begitu saja di jalanan. Tahu apa sebabnya?

Dokter Susan menyebut, sebab utama sudah jelas masalah ekonomi. Bisa jadi pemilik pindah ke rumah yang lebih kecil. Atau secara finansial mengalami penurunan. Sehingga tidak mampu untuk memberi makan peliharaannya.

Sebab lain. Hewan peliharaannya dibiarkan beranak - pinak, tanpa menyadari pegeluaran untuk merawat semakin tinggi.

Pitbull

Ledakan populasi anjing dan kucing, menurut dokter Susan terjadi karena pembiakan untuk kebutuhan pasar, dan ketidakpahaman pemilik hewan tentang pentingnya sterilisasi. Coba bayangkan, jika kucing atau anjing milik anda beranak dengan jumlah yang membuat kewalahan majikannya, tentu tindakan selanjutnya adalah menawarkan kepada adopter agar mau membantu merawat beberapa anaknya bukan? Kalau tidak ketemu adopter? Buang dijalan.

Sedangkan breeder atau pembiak, biasanya menarget hewannya mampu berkembang biak setelah usia enam bulan. Jika tidak bisa beranak? Atau sudah tidak produktif? Hewan - hewan itu akan berakhir di jalan atau jagal lapo.

Dokter Susan berharap, edukasi kepada masyarakat tentang sterilisasi hewan bisa lebih ditingkatkan. Sterilisasi memang mahal, hanya saja itu adalah satu - satunya cara agar populasi hewan piaraan terkendali dan mereka bisa hidup lebih baik. Sedangkan harga yang mahal tadi, bisa disiasati dengan penggalangan dana oleh dokter hewan, rescuer, atau siapa saja agar bisa dilakukan sterilisasi masal bagi hewan rumahan.

Baik anjing dan kucing adalah hewan yang mengalami domestikasi. Tanpa  pertolongan manusia, mereka tidak akan bisa menghidupi dirinya sendiri. Mereka akan mengais atau meminta makan karena kemampuan berburu mereka telah dikerdilkan berabad lalu, untuk kepentingan manusia.

Mengasihi makhluk Tuhan lain adalah wujud sejati manusia sebagai penghuni di planet ini.

Belajar menyayangi dari mereka



Selasa, 13 Oktober 2015


Mati suri entah keberapa kali.

Aku pikir menjadi wartawan akan memeriku banyak ruang untuk terus menulis di blog. Sebelumnya aku berbangga hati bisa ajeg menulis setiap bulan. Tapi ternyata tidak! Setiap hari turun ke lapangan membuat prioritas bergeser jauh.

Hari ini, aku mendapat spirit supply dari salah satu produser. "Kamu kalau suka menulis harus dijaga. Biar tetap berkembang dan nggak lupa rasanya."

Aku harap, aku akan lebih beruntung untuk tidak melupakan rasa yang pernah ada... :D

Aku juga ingin ucapkan Selamat Tahun Baru Islam bagi saudara muslimin muslimat di manapun berada. Semoga kita menjadi umat yang lebih baik. Bertuhan tanpa mengafirkan yang lain. Berbuat baik tanpa memburukkan yang lain. Mengasihi dan tidak memusuhi. Jangan lupa rasanya... mencintai agama dengan rendah hati.

Selasa, 21 Juli 2015

I shifted to Jakarta. I thought everything is better unspoken, but silently reach to Him.
There was a particular day, I woke up and suddenly I wanted to pack my stuffs while thinking, “I need to move from Surabaya”. I found myself grew slower, while my closest friends re on their way to pursue their life plan. I will be miserably alone.

Practically, I enjoyed one year full of trip after resignation from my former working place. I stopped after Dad was hospitalized. I should start my study plan, but I decided another working experience. In the end, I knew I had to move.


Here, I throw all prediction and probability. I come to know that whatever we tried so hard to plan our life, His plan is always much better in the end. Or wherever He drags me to be, that’s where I should be. Calmer!

Jumat, 19 Juni 2015

Kalau kata Sujiwo Tedjo, aku ini utang rasa, sama mbah2 sepuh yang jual nasi pecel di deket kos.

Puasa tahun lalu, beliau meletakkan racikan pecelnya: sayur rebus, mie, kering tempe, sambal, dan kerupuk di tempat seadanya. Sebutlah jorok, karena memang begitu. Rebusan sayurnya biasanya tanpa sengaja ada ekstrak rambut sehelai di antaranya. Hecinya tak berbentuk, malah wujudnya mirip adonan tepung dipaksa masuk penggorengan. Tapi jangan salah, rasanya enak. Peyeknya hancur, tapi enak juga. Aku yakin dulu dia jago soal masak - memasak.

Duduk diam menanti pembeli sambil ngantuk - ngantuk. Fisiknya sendiri sudah kelihatan nggak capable buat gerak cepat. Perawakan beliau kecil, agak membungkuk, dan wajahnya kuyu. Aku yakin pembeli yang ke situ, kalau nggak malas jalan jauh ke warung lain, ya iba sama beliau. Aku golongan yang disebut belakangan, dengan beberapa persen faktor yang disebut pertama.

"Beli apa, Dik?" sapanya dengan suara berat, sambil tangannya meraih kertas minyak, saking tidak fleksibelnya, kertasnya lecek. Kadang diambilnya sambil dibumbui sapuan tangan ke lidah dahulu. Megang sendoknya kaku. Nggak jarang lauknya kececeran. Karena tangannya gemetaran. Beliau menyendok racikan pecel satu demi satu dengan susah payah. Wah, luar biasa rasanya, haru biru kalau nonton effort-nya. Sementara yang mengantri di belakang dengan penuh sabar menunggu Si Mbah menyelesaikan tugasnya. Bagus kan, buat melatih kesabaran.

"Berapa Mbah Ti?"
Beliau diam sejenak. Lalu menyebut nominal yang nggak masuk akal murahnya. Surabaya hari gini, dia jual nasi pecelnya Rp 3,500,00. Sudah isi heci sama peyrk. Kalau aku paksa - paksain beli peyeknya seplastik pun, atau upgrade lauk ke telur kecap, paling banter Rp 5,000,00. Wah, ini alasan ketiga orang mau beli di warung beliau, murah...

Dua kali, beliau pernah spontan cerita. Kalau anaknya kerja di Sumatra, lalu satunya di Telkom. Aku nggak menduga - duga namun sepertinya, beliau tetap jualan karena memang itu sudah pekerjaannya sejak lama. Aku positive thinking pasti anaknya menafkahi beliau juga. Aku nggak tahu sudah sejak kapan. Namun, puasa tahun ini, warungnya sudah dikelola salah satu anaknya.

"Monggo," Si Mbah tetap di situ kok, menunggui tanpa sedikitpun mengganggu anaknya melayani pelanggan. Nggak power syndrome deh bahasa ribetnya. Si Ibu, anak Si Mbah, ramah wajahnya, jualan dengan lebih set set settt, bersih, dan dengan servis yang upgrade begini, sudah tentu harganya bersaing dengan warung - warung lain.

Ada rasa nyess, setiap ingat Si Mbah dulu. Figurnya waktu jualan, waktu menumpahkan racikan, waktu mengambil kertas. Sepuh begitu masih ikhtiar kepada Tuhan, ikrar cari nafkah tanpa ngemis. Yang muda begini kalau letoy ya perlu dijambak ya.

Overall matur suwun Mbah. Semoga panjang umur. Si Mbah sudah mengajari aku arti ngeyel yang sebenarnya. Moga berkah, disayang Allah hidup saat ini dan hidup berikutnya.

Rabu, 20 Mei 2015

Shanghai.

Setelah membeku di depan Starbucks kurang lebih sejam - karena nggak punya peta, sampailah aku di kasur sewaan tercinta. Hotel tempatku menginap tinggal ngglundung kalau mau ke the Bund. Namanya Hanting Hotel Express. Alamatnya di Huang Pu Road. Letaknya di pinggir sungai Huang Pu. Alasan menginap di situ: murah dan ada view ke arah sungai. Sampai di sana, kamarku ternyata nggak punya jendela. Fasilitas hotel cukup nyaman, harga sewa 189 RMB, plus setiap hari bertebaran mini card iklan prostitusi macam ini di bawah pintu:

Iklan prostitusi

Rutinitas selama di sana: bangun tidur tanpa mandi, ke family mart beli mian bao sama air putih atau kopi (karena itu yang paling murah), lalu ke pinggir Huang Pu, alias Sungai Kuning yang mendunia itu. Nongkrong bersama ratusan orang melihat lalu - lalang kapal di sungai yang entah berapa kedalamannya. Rupanya, maqom-nya sungai ini memang untuk jalur lalu lintas air yang padat sejak dahulu.



Berkabut tipis sore itu

Di hadapan sana membentang wallpaper asli karya anak bangsa negeri Tiongkok, ikon kebanggaan Shanghai: Oriental Pearl TV Tower.

Aku nggak pernah mendekat ke sana, bahkan hingga di hari terakhir aku tinggal di sana. Sekalipun tidak pernah. Beberapa hal memang lebih indah dinikmati dari kejauhan. Seperti beberapa hal lebih menyenangkan disaksikan daripada difoto.


Bukan Perjuangan

Jika bicara Shanghai denganku, pengetahuanku hanya sebatas area hotel itu. Pinggiran Sungai Huang, patung banteng seperi halnya yang ada di Wall Street, jalanan di Nanjing road yang dipenuhi bangunan tua bergaya Eropa, pemandangan jalanan yang bersih tanpa sampah. Bonusnya, setiap hari ada pemandangan calon pengantin mengambil prewed photo di situ dengan gagah berani memakai gaun sleeve-less di tengah suhu 8 derajat. Apalah aku ini, yang pegang es batu pun langsung pilek. :(

Hyatt the Bund, hotelku kecil di sebelahnya

Shanghai adalah salah satu kota dengan fasilitas transportasi yang hao de! Wujud suksesnya Cina dalam membangun fasilitas publik. Subway tersedia dengan jalur yang padat menghubungkan seluruh area di kota itu, dengan modal jalan kaki dan koin, serta semangat kuat tanpa takut kaki pegal - pegal, insyaAllah seluruh kota ini bisa dijelajah dengan nyaman.


Sore itu

When I was a child, I used to pray with both eyes closed, my lower jaw locked the upper, and my hands drifted in the air. I did that whenever I wanted something. I played kite, I needed the wind to come so my kite could fly, I closed my eyes tightly until I felt the wind touched my ears.

When I was in exam, because Mom wanted me to be in first rank, I studied like crazy. I woke up at 4 in the morning everyday, turned on my lamp and study. Along with that I wishpered to God: God let me get 100, I want 100, I didn't want to have any mistakes. Then when I again study for exam in the class, I sat on teacher chair and opened up my teacher's book, it was a class daily book anyway. There were few numbers in that book marked with pen, so I read only that innocently. Then, that was the question mentioned in exam. I got 100 after reading it.

Do you think I am lucky?
I was thinking I was a lucky bastard until I read Supernova book. That was the way God speaks in childhood. He was so close and he was really everywhere. In childhood, spoke something to Him wasn't a big deal. Yet, as time goes by, I was too busy about life, distance appeared, and talking to Him is a hard work. For some times, we tried to rethinking about His existance, or redefine our belief.

In childhood, whatever we wanted, we spoke to Him with pure heart like we spoke to Dad and Mom. Or sometimes, because we knew that we couldn't ask it to our parents, then they said, "Ask God".

But it makes God so close. A child never worry about life, unlike adult. Now, when I reach maturity, I came to know that sometimes I worried so much about life. About my purpose, about my track. Was that correct, was that true. How if I failed. How if what I have chosen points me to the wrong way?

My friend said that it was a quarter life crises. When we try to figure out what we have done to our life so far. About value and purpose. About decision. It comes so far into jealousy of people who can be free, without any family reputation responsibility. Having lots of adventure. Having a great job. Creating their own dream.

Now, it is the right time to come back, to childhood view point. For this case, it is a must for me, to use my purity in communicating to Him. Redefine my self, not the God. Make everything smaller about Him getting bigger. His existance is not human business, but human relations towards Him is a business for all in personal space. 

But by writing it here, at least I get a better place to speak...,
to God.

Taken at Sarangan Lake, Magetan, Indonesia. Lovely home.

Selasa, 12 Mei 2015

Assalamuallaikum,
Cina bukan negara yang berada dalam wish list of me, hanya saja beberapa rencana di dalam hidup kita sering kali nggak lebih seru dari rencana Tuhan. Bisa kubayangkan Dia mencoret rencana - rencanaku sambil bilang, " Dasar nggak asyik!" Hahaha, don't be so sensitive, me and Him have private space to share.

Pagi hari pukul 5.30 bangun pagiku dihadiahi pemandangan made in Allah in China, pendar cahaya matahari di kaki langit, Ni Hao Shanghai. Aku menuruni tangga pesawat dengan jaket seadanya, kedinginan sambil menggendong backpack. Pipi rasanya dijejalkan ke dalam freezer. Suhu pagi ini 8 derajat, what an unlucky tropical creature I am. Aku lebih suka megap - megap kepanasan daripada sekuat tenaga menahan dingin dan sibuk ngelap ingus pakai ujung jaket

My 15 hours exhausted look and my tiny outfit
I LOVE THIS CITY!

Shanghai adalah cermin keseriusan pemerintah negeri ini mewujudkan model transportasi yang efisien. Mereka punya subway, maglev, shuttle bus, yang semuanya bermuara di Pudong Airport. Dari ketiganya, aku pilih maglev. Alasannya, AKU LELAH DENGAN SEMUA INI! AKU MAU CEPAT SAMPAI HOTEL LALU TIDUR!!! :D

Aku menunggu dengan sabar di depan loket yang masih tutup, demi bisa merasakan naik kereta dengan kecepatan kurang lebih 400 km/jam menghubungkan Shanghai Pudong International Airport sampai Longyang Road station (jalurnya masih dalam pembangunan). Harga tiket sekali jalan 50 RMB. Diskon 10 RMB bagi yang menunjukkan waktu penerbangan di hari yang sama dengan pembelian tiket. Butuh hanya 8 menit untuk sampai ke stasiun terakhir, memuaskan bagi yang perhitungan soal waktu.
Loketnya belum buka
Waiting room masih sepi
Perjalanan dengan Maglev berhenti di Longyang Road station, kemudian harus lanjut dengan subway atau metro menuju tengah kota, dengan harga tiket yang lebih murah. Dari Pudong airport, kita bisa langsung naik subway LINE 2 (hijau muda) yang menghubungkannya ke Hongqiao airport. Nantinya, penumpang yang naik menuju tengah kota harus ganti Metro LINE 2 di rel sebelahnya setelah sampai di Guanglan Road station.


Maglev


Sempetin!

Jumat, 13 Maret 2015

“Bapak, saya mau foto untuk keperluan visa ke Cina,”
“Silakan ke studio, Dik.”

Ya, dialog seperti ini terjadi di Studio Foto Gaya Indah di Surabaya. Lokasinya di Jalan Kertajaya, kalau dari arah Gubeng lokasinya sebelum Holland Bakery. Istimewanya, studio ini paham ukuran dan jenis foto yang diperlukan untuk mengurus visa berbagai negara. Kalau ke Eropa proporsinya begini, ke Jepang begitu, dan sebagainya. Setelah jeprat – jepret foto bisa dibawa pulang dalam 15 menit.

Setelah itu perjalanan apply visa L (jenis visa untuk turis ke Cina) dimulai.

Chinese Visa Application Service Center (CVASC) adalah pihak yang ditunjuk pemerintah Cina untuk proses pengurusan visa. Jadi bagi yang mau mengurus di Surabaya jangan salah “ketok pintu” ke Konjen Cina. Kantornya di SPAZIO building (arah PTC atau Graha Family), lantai 5. Dari lift belok ke kanan.

Syaratnya begini:

  • Formulir pendaftaran visa diisi lengkap, bisa lewat webnya CVASC atau ditulis tangan dengan huruf kapital. Pada bagian itinerary diisi tiba di kota mana, NAMUN disertai dengan rencana perjalanan dan tempat tinggal selama di Cina mulai dari berangkat dari Surabaya sampai kembali lagi ke Surabaya. Begitu instruksi petugasnya kemarin. "Dikira - kira saja Mbak, tapi jelas di mana tinggalnya," begitu saran petugasnya,
  • Pas foto background putih, again kalau ogah pusing jelasin ke abang tukang fotonya lebih baik ke studio yang paham proporsi untuk visa. Waktu itu cuma perlu satu lembar,
  • Tiket PP menyertakan kode booking dan nama pemohon. Kalau enggan bayar booking dulu, menurut teman, bisa keep penerbangan dulu lewat travel agent. Nanti urusan mau ganti penerbangan atau menyesuaikan jadwal, bisa dibicarakan dengan agennya,
  • Hotel booking selama berada di sana, atau kalau tinggal bersama warga lokal, harus menyertakan invitation letter. Bisa booking lewat www.booking.com pilih hotel dengan opsi bayar belakangan, pembatalan gratis,
  • Copy password halaman yang ada keterangan identitas dan bagian belakang,
  • Copy KTP,
  • Jangan lupa paspor diserahkan kepada petugas (minimal 6 bulan sebelum habis masa berlaku dengan sisa halaman yang memadahi).
Tipsnya supaya lancar: patuhi semua persyaratan, jangan lupa bayar saat pengambilan :D

Selamat bertamasya keliling - keliling Cina, hendak melihat - lihat keramaian yang ada... 



Sabtu, 21 Februari 2015

Ini tulisan pertamaku tentang film. Ada panggilan buat nge-review film ini saking ngena-nya di hati.

PK adalah film produksi India yang mengangkat kritik sosial terhadap fenomena blind follower - dalam bahasa saya - para monk, dibintangi Aamir Khan yang telah membintangi film bertema kritik sosial sebelumnya, dan Anushka Sharma. Mengapa menarik, stay tune sampai akhir tulisan.

The story:

Semesta membentang di luar batas pengetahuan kita. Di luar sana, ada ratusan galaksi yang mirip dengan galaksi tempat bumi kita berada. Di sana bisa saja ada makhluk dengan tata kehidupan seperti kita, dan salah satunya PK (Aamir Khan) hadir di bumi dan tersesat tidak bisa pulang karena remote pemanggil pesawat luar angkasanya dicuri. PK (pikee dalam bahasa Hindi berarti mabuk) terus berusaha berkomunikasi dengan manusia di sekitarnya, mengenal budayanya, dan mempelajari bahasanya untuk mencari remote-nya. Semua orang menyebut, "tanya saja sama Tuhan!" "Tuhan akan menyelesaikan masalahmu!" Tuhan, Tuhan, Tuhan... Siapa Tuhan? Sejak itu dia mencari - cari Tuhan, untuk mendapatkan lagi remote-nya

Dalam pencariannya, dia bertemu Jaggu (Anushka Sharma) seorang reporter TV dengan latar belakang keluarga fanatik. Kepada Jaggu, ia ceritakan pengalamannya diusir dari kuil karena Tuhan tidak memberinya remote setelah menyerahkan persembahan. Lalu dia pergi ke rumah Tuhan yang lain, membawa sesaji, ke dalam gereja. Di sana Tuhan minum wine. Diusir dari tempat itu, dia kembali mencari cara bertemu Tuhan. Dengan membawa wine, dia menuju ke rumah Tuhan terdekat di sekitarnya, masjid. Kembali dia harus dikejar - kejar massa. Dia bingung mengapa Tuhan ada bermacam - macam. Yang satu mengharuskan lepas sandal untuk masuk rumah-Nya, satu lagi harus bersepatu. Yang satu mengharuskan puasa Senin Kamis, yang lain tidak. Yang satu minum wine yang lain melarang. Baginya Tuhan punya konsepsi masing - masing, Dia seperti membuat perusahaan dengan konsep berbeda satu sama lain, lalu menitahkan manajer - manajernya (para biksu, rahib, pemuka agama) untuk menyampaikan visi misi perusahaan-Nya ke bumi.

Hingga pada suatu titik, untuk pertama kalinya dia berjumpa dengan remote yang dicari-cari selama ini, berada di tangan seorang monk lalu disebutnya sebagai Batu Siwa. Pada saat itu dia mulai memahami bahwa beberapa manajer menyampaikan ajaran yang keliru pada umatnya yang juga malas berpikir. Dibantu oleh Jaggu, PK bertemu dengan monk yang memiliki remote-nya dan mulai mendebat logika keliru tentang ajarannya kepada umat. Jaggu mengangkat isu tersebut ke media TV tempatnya bekerja hingga mendapat banyak sekali perhatian dari publik. Akankah remote pemanggilnya kembali?

Fenomena yang diangkat dalam film ini benar terjadi di India. Blind follower menjadi fenomena yang sangat mudah dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, mengatasnamakan dirinya sebagai pemuka agama namun melakukan tindakan yang keliru yang justru merugikan umatnya. Saya mencoba bertanya dengan salah satu teman di sana, dia menyebutkan, bahkan pernah terjadi perkosaan terhadap gadis belia oleh oknum yang mengaku sebagai pemuka agama karena memberikan petuah yang keliru pada masyarakat yang mengikutinya untuk menyerahkan anak gadisnya supaya kehidupannya menjadi lebih baik.

Film tersebut juga mengangkat kritik mengenai toleransi beragama di negara dengan beragam kepercayaan, seperti halnya Indonesia. Kalau boleh dikata, tema besarnya sama dengan film "?" (tanda tanya) insya Allah disutradarai oleh Hanung Bramantyo. 

Dengan dialog cerdas dan sarat kritik, kita akan diajak memahami bagaimana tata kehidupan masyarakat India disandingkan dengan agama yang dianutnya.

Selamat menonton, semoga ada hikmah yang bisa dipetik.




Senin, 29 Desember 2014

Hidupku sebebas ini namun justru membebani. Memang kenapa kalau aku menganggur? Mana yang terpenting, aku bahagia menikmati hidup atau terkurung di belakang meja kerja demi disebut normal karena bekerja setelah kuliah?

Kalau nanti prosesku berakhir indah. Jangan sedih jika aku tak tergapai lagi oleh tanganmu.

Kamis, 18 Desember 2014


Eksotisme tanah Hindustan sudah saya ketahui jauh-jauh hari sebelum terbang ke Delhi. Saat mengurus Visa di Kedutaan Besar India di Jakarta, saya mendapat beberapa majalah pariwisata India, dan most visit places di beberapa provinsi yang berbeda. India memang kaya dengan tempat wisata yang tersebar dari utara dan selatan. Ide berkunjung ke Manali (Himachal Pradesh) muncul ketika kawan-kawan mahasiswa di Delhi menawarkan untuk pergi ke bagian utara India sekedar melihat rangkaian Pegunungan Himalaya, dan tentu saja, bermain salju. Ide yang sangat menyenangkan, terlebih karena saya dan empat teman saya yang sama-sama baru satu bulan di India memutuskan untuk backpacking jorney.

Saya dan empat teman saya tinggal di provinsi yang berbeda. Kami memutuskan untuk bertemu di Delhi. Tiga teman saya memulai perjalanannya dari Baroda (Gujarat) dan saya bersama salah seorang teman memulai perjalanan dari Jaipur (Rajasthan). Perjalanan dari Jaipur ke Delhi yang seharusnya hanya perlu lima jam harus kami tempuh enam jam karena kondisi jalan penghubung dua kota itu sedang dalam pembangunan. Bus kami berhenti di Bikaneer House, terminal pemberhentian khusus untuk bus dari Rajasthan. Akses bus dari dan ke Jaipur memang terbilang mudah, mengingat Jaipur adalah salah satu kota tujuan wisata di India. Perjalanan berikutnya akan kami mulai pada pukul 20.45 waktu setempat dengan angkutan paling murah untuk perjalanan lima belas jam menuju Manali. Setiap orang membayar Rs 500,00 (setara dengan Rp 112500,00). Awalnya saya shock, bus yang kawan-kawan Indonesia di India sebut sebagai bus kambing itu tampilannya memang tidak meyakinkan. Seperti halnya bus tua, jarak antara bangku kiri dan kanan sangat sempit, lorongnya hanya bisa dilalui orang satu per satu. Tapi saya tidak menyangsikan kebolehannya menjelajah rute panjang Delhi-Manali, anggap saja semakin tua semakin banyak pengalamannya. Bus kami malam itu membawa muatan penuh. Lampu warna kuning yang menerangi bus seolah mewakili kesederhanaan perjalanan lima mahasiswa Indonesia dengan kocek yang juga ‘sederhana’. Ramainya orang bercakap-cakap di dalam bus hanya bertahan beberapa jam, setelah itu suasana berangsur-angsur hening, semua orang tertidur.

Setelah tiga jam perjalanan, kami sampai di Chandigarh (Punjab). Semakin ke utara, udara semakin dingin. Saya pikir, bus tidak akan sering-sering berhenti, tak tahunya malam itu bus berhenti berkali-kali, untuk minum cay (teh susu khas India), driver shift, dan kebutuhan kamar mandi. Pukul dua pagi, bus mulai melewati medan berkelok-kelok, entah di daerah mana. Saya hanya menebak-nebak, bus mungkin sudah masuk provinsi Himachal Pradesh. Di luar sangat gelap dan lampu di dalam bus dimatikan. Saya memilih membungkus kaki saya ke dalam sepatu dan menyimpan tangan saya ke dalam saku jaket, hawa dingin semakin terasa, dan saya mulai mengantuk. Matahari belum terlihat saat saya terbangun pukul lima pagi, tanggal 27 Februari 2011. Kondektur bilang, bus akan sampai Manali pukul dua belas siang. Saya menghela napas, membayangkan harus tetap di dalam bus ini sampai tengah hari nanti. Pagi hari bus kami berhenti di Mandi. Perut saya sudah keroncongan, namun kami sepakat untuk tidak makan dulu sebelum sampai Manali, demi menghemat pengeluaran. Kami sudah mulai melihat puncak-puncak gunung yang diselimuti salju setelah meninggalkan Mandi. Bus kami sekali lagi berhenti di Kulu, dan itu menjadi pemberhentian terakhir sebelum mencapai Manali. Saya sudah tidak sabar, ingin cepat sampai dan makan karena kelaparan berat. Perjalanan semakin menyenangkan karena pemandangan tebing dan Pegunungan Himalaya sangat eksotis. Sepanjang jalan kami melihat sungai berbatu dan pohon-pohon yang masih meranggas karena musim dingin. Satu jam sebelum mencapai Manali, kami melewati terowongan gelap dan panjang yang diterangi lampu-lampu kuning di kiri-kanannya. Akhirnya pukul 12.30 waktu setempat, kami sampai di Manali.

Setelah mengisi perut, kami segera mencari penginapan. Kami hanya ingin menyewa satu kamar untuk lima orang. Beberapa orang menawarkan harga kamar yang cukup miring, namun kami belum mau menyerah, kami ingin mencari harga kamar paling murah yang bisa kami sewa. Akhirnya berkat kesabaran salah satu teman mencari informasi, kami mendapat satu kamar dengan harga sewa setara Rp 28.000,00 per orang untuk empat hari sewa. Kami tidur berdesak-desakan di tempat tidur double bad dengan sembilan selimut yang diberikan pemilik penginapan. Malam itu kami tutup dengan makan malam mie instan setelah gagal menemukan restoran yang buka di malam hari di sekitar tempat kami menginap.
Pagi hari tanggal 28 Februari 2011, langit berawan dan cuaca tidak sedingin yang saya bayangkan. Pemilik penginapan mengatakan, semakin berawan langit, udara justru semakin hangat; dan sebaliknya, ketika langit cerah, udara menjadi sangat dingin. Kami menyewa mobil untuk mencapai play ground di Solang Valley. Dengan menyewa mobil seharga Rs 600,00, saya dan teman-teman dapat mencapai lembah yang berjarak dua kilometer dari penginapan. Setelah menyewa sepatu boots dan baju seharga Rs 150,00 kami siap beraksi di atas salju. Wahana permainan yang tersedia sangat banyak, sebagaimana daerah wisata bersalju kebanyakan. Saya sangat tertarik mencoba paragliding. Dengan membayar Rs 500,00 , saya berkesempatan untuk terbang kurang dari lima menit di atas lembah. Perjalanan mendaki ke start spot sangat melelahkan. Saya yang tidak terbiasa mendaki harus berhenti berkali-kali sebelum akhirnya sampai. Berbeda sekali dengan pilot yang membawa saya terbang. Dengan membawa parasut di punggungnya, dia mendaki sambil berlari dan bilang “Joldi chalo!” kepada saya, yang artinya menyuruh saya berjalan lebih cepat. Wajar saja, saya bisa membayangkan dia belasan kali naik turun bukit sebagai konsekuensi pekerjaannya. Meskipun hanya beberapa saat, pengalaman paragliding di Solang Valley sangat menyenangkan. Saya tidak ingin mencoba wahana lainnya karena uang saya semakin menipis. Berikutnya, saya menghabiskan waktu bersama teman-teman senasib saya membuat boneka salju yang saya dandani mirip rapper, berguling-guling di atas salju, dan mengabadikan momen-momen di Solang Valley bersama teman-teman hebat saya.

Kami memutuskan naik bus kelas bisnis menuju Delhi. Sedikit mangkel ternyata harga tiketnya cuma beda Rs 50,00 dari harga bus kambing. Saya senang karena bisa tidur dengan nyaman, dengan seat yang lebih empuk dan suara mesin yang tidak menderu-deru dengan keras. Tidak disangka, kami berlima malah mabuk perjalanan. Saya bahkan harus minum obat masuk angin dua kali. Perut rasanya diaduk-aduk dan kepala pusing luar biasa. Sopir bus mengendarai busnya dengan ugal-ugalan di jalan berkelok-kelok Manali menjuju Chandigarh. Saya kemudian berpikir, memang lebih baik naik bus jelek yang jalannya mau tidak mau harus pelan-pelan, daripada naik bus yang mesinnya lebih bagus, tapi bikin sopir khilaf mengendarainya dengan keut-kebutan. Hasilnya, perjalanan Manali-Delhi dapat kami tempuh dalam waktu 13 jam. Dua jam lebih singkat dari waktu keberangkatan kami menuju Manali.

Overall, saya benar-benar merasakan pengalaman hebat karena berhasil menjelajah provinsi di wilayah utara India dengan harga sangat murah. Semoga cerita nekad saya dan teman-teman dapat menginspirasi pembaca rubrik for her untuk menjelajah tempat-tempat eksotis suatu hari nanti. Dan terima kasih untuk pelajar-pelajar Indonesia di Delhi yang telah merekomendasikan Manali untuk petualangan saya yang sangat singkat di India.

PS:
Rs 1,00 = Rp 225,00

Diterbitkan di Jawa Pos, Kamis, 5 Mei 2011

Kamis, 04 Desember 2014

I got a bit tension in the beginning of the day.

The wave was a bit high that morning. I was scared if my snorkeling plan would be ruined by the weather. I went out from the place I stayed during there and asked the officer for payment process.

"Sorry Mam, cash only."
"You sure you cannot accept debet or credit card?"
"Sorry. Mam, you can take cash from ATM and come back again." So I was looking for one and only ATM in this island by motorcycle. Some souvenir seller yelled me, "WATCHOUT!" everytime the wave came to the edge of the road. Hahaha, that was fun.

Few minutes later I arrived to the ATM with the sign sticked on the door: We are sorry, ATM machine cannot be used now. Shit! I had no more cash!!!

And I was shock it was one and only ATM in Nusa Lembongan island, which also served Nusa Ceningan Island. That was so much different with Gili Trawangan which has ATM service from more than two banks.

I explained to the officer and he was so dissapointed and said,"They are silly! They prepare these islands for tourism and they provide only one machine. And they don't come to refill the cash on it. They put that machine only for display property!"

He asked me to go to money changer. They had EDC machine, so I paid my cash with debet transaction by that machine. And I got 5% charge for the transaction. Damn! It was my first time bought IDR by using debet card.

I paid him then I went to snorkeling spot. We started snorkeling around 1 pm and it was not best time to start it. First, because it's super hot in the afternoon. Second, the water is getting darker along with the sun ups to the west. Third, it made us in hurry since the boat had to arrive to the port before 3pm. The wave would lessened and it made the boat couldn't reach the beach. Better to start it around 10 in the morning, then you will have plenty of time to enjoy unlimited pleasure of underwater world.

I paid for 125K for 3 spots in the island. Baby, make sure you wear life jacket if it's your first time. I told you that because I got my first experience in Lembongan. Safety first! Anyway, I couldn't describe how was that under the sea. But Nusa Lembongan has super colorful fishes and corals with clear water that makes you feel comfortable when doing it.

I sat in the port before 4.30pm. No longer after that, the boat came. Small boat. The fast boat couldn't reach the beach. We were dropped to the fast boat after reaching hondreds meters from the beach. And I came back to main island, Bali. Couldn't be more happy to see ATM everywhere. :')




Senin, 01 Desember 2014

Bagaimana bisa kau membiarkan penghianatan seperti itu melukaimu, dan kau terlihat begitu tegarnya...? Apa kau benar - benar tidak merasa sakit? Sedikitpun tidak merasakan nyeri? Kau sepertinya mengingkarinya.

Aku mengagumi kesabaranmu. Aku pikir memaafkan orang yang telat satu jam dari jadwal adalah prestasi terbesarku soal bersabar. Lalu kau ini apa namanya bisa memaafkan orang yang [kau harus mengakuinya] melukaimu  dengan gampang? Kau masih merawatnya, menyiapkan obatnya, memilih tidak sakit hati karena kata - katanya, dan lagi - lagi memaafkannya.

Aku katakan padamu, aku tidak akan pernah melupakan alasannya, apa yang membuatnya terbaring kesakitan dan membuat kita hanya memperhatikannya selama ini. Kau memandangiku setelah kalimatku berakhir, lalu berkata: ikhlaslah, dia bapakmu.

Can't go home alone again
Need someone to numb the pain 

You're gone and I gotta stay
High all the time
To -high to-
High all the time
To -high to-
High all the time
To keep you off my mind
[Tove Lo]

Minggu, 23 November 2014

One of the costume theme in carnival

It was almost ten in the evening, finally Andhika, my tripmate came. He is my friend since in high school. He loves traveling like crazy, he loves Indonesia like nobody else. We would go to Jember for Jember Fashion Carnival 13 (JFC). It is annual festival held by Jember government to push the tourism sector in this small town. Adopted from the concept of Rio Carnival, this is great idea and becomes the role model for same events in other cities.

Dumb never cured. I forgot to order the room for us to stay there. I called many hotels and all were fully booked due to this festival. Then, one of the receptionist who sounds like a woman but actually a man offered me to check another hotel, after I told him that if I couldn't get a place to stay, I would stay in the train station, and I am a girl, and it would be terrifying. It sounded pitty enough to make him gave me a favor to find a room to stay. Thank God we got it. In a super creepy hotel.

In the morning, we went to city square, where the run way would be started. The parade was started around 3 in the afternoon. While waiting for the parade, we tried to catch up the crew to get VIP ID. By using that ID, we could stay in the performance stage,  not in the edge of the road along the runway.

And finally,  it was started based on the schedule. Me and Andhika got the ID, and we sat in the very nice spot where we could see the performance clearly. 

The concept of the festival was about showing the unique costumes based on the theme they have chosen. There were: Mahabharat, stalagmites, borobudur,jungle, kite,phoenix, etc.

To see their costumes go visit my instagram: @diantikanin. 

And finally the parade was over. Now we struggled for going back to the hotel,. The way to the hotel was in the same route with runway.  So we couldn't skip the crowd,  we walked together with the parade. The situation was a bit lost in control. People came forward and forced the talent to take picture with them. It made super long jam because of the undisciplined behavior. 

And we walked for 3,5 kms. That's so tiring because we walked so slow to pass the crowd.  We just moved back to the hotel and jumped to the swimming pool.

Why this parade is worth to attend :
1. International level
2. Great costume concept,  they seriously work on it
3. Annual event, so you can book your date there
4. Low budget, no need to take flight to Rio for such adorable carnival
5. Support local event.

And pictures of this carnival can be seen in my instagram: @diantikanin


Senin, 10 November 2014

Guys,  after reading this story, you have responsibility to find the answer of many things when you visit Baduy one day. Because all experiences here are mine, are my feeling, are my perspective. If you are not sure about whether it's wrong or right, that's your duty since today to find the answer. Have a good trip fellas.

I reached Jakarta, and Andhika - or Jawa people call him - also was on his way from Bogor to Jakarta. Again we would have a trip, but we went there with another 50 people in group. We would go to Baduy Tribe.

Baduy is a tribe which is located in Banten Province. They are divided into two main group,  Baduy Luar and Baduy Dalam. In this trip, I would stop until Baduy Luar, since it took shorter track to go, only 3 km on foot (around 1 hour tracking). And for Baduy Dalam, it took 4 hours with longer and killing track.

I estimated my time, if I started tracking from 1 pm. I would reach Baduy Dalam at 5 pm approximately, and I would be tired, and slept, and I couldn't enjoy it. Since took pictures in Baduy Dalam isn't allowed. And it was my first time came there, I needed to fulfill my curiosity so I need so many clicks for documentation. Considering that things, I stopped in Baduy Luar, where everything was more flexible.

In Ciboleger, our starting point; Jawa gave us briefing before starting the trip. He said: keep your spirit up, no negative feeling, don't break the rule in Baduy, be respectful to the locals.

During the trip, my boyfriend asked many things to the porter, Mang Herman from Baduy Luar. In Baduy Luar, we are allowed to take a bath using soap, shampoo, and toothpaste. Taking picture is allowed. And they are more open to visitors. All those things aren't allowed there in Baduy Dalam. Foreigner also isn't allowed to stay in Baduy Dalam. I didn't ask why.

Mang Herman walked with us while bringing somebody bag, it was heavy bag and he could bring it while talking without tired gesture at all. I even saw the boy of [around] 4 years old became a porter with his daddy.

He said, Baduy only has one Uun, the leader. And Jaro, easily, they are the assistant of Uun. People here live in balance, not too poor or rich, not too much in everything, and loves mother of nature.

He said that since he was kid, Baduy was opened for public, visitors come every weekend. In Baduy Dalam, visitors are allowed to stay one night. Not more than that.

During the trip, I saw plastic trashes everywhere. I kept questioning, was that because of visitors?  Where are their brains, how dare they throw the trashes in other's homeland?!

And that's why I swore myself not to throw the trashes during the trip. Be more respectful to the landlords.

PS: Pictures are there in my instagram @diantikanin, feel free to take a look on it.

[1]

Selasa, 04 November 2014

I put all of the stuffs in my room and ready to go. I had a motorcycle there in the yard. We would go across the bridge to Nusa Ceningan.  Rara was so excited for cliff jumping.
From Jungut Batu, you will go through the road climbed to the upper side of the island in few minutes.  Be careful, the road is not friendly for high speed movement.

The scenery from the upper side was perfect. In the afternoon, the ocean water is bright and you can see the gradation of colors on it. The coastline goes wider, in the afternoon the water wave goes short and that's the right time for local people to get down and pick up the sea weed. They will put it on their yard or back yard or on the edge of the street to dry it. They use traditional way to process it.

I passed a graveyard too there. I couldn't imagine how dark this place at night,  in the upper side, there's no light at all along the road unless there's a resto or cafe which put the lights in front of their venue.  if you are not sure to go at night, considering the safety and motorcycle performance, better you stay nearby your room. That's why it's important for you to choose good place to stay, nearby restaurant or shop.

We passed a yellow bridge, one and only bridge to make Nusa Lembongan and Nusa Ceningan connected.

We moved and stuck, OMG there's no sign. We had map too and GPS, unlucky it didn't work, my position was stated in the middle of the sea. That's so frustrated. We moved to the very rough road and stuck. There were two boys walked there and we came closer to them.

"Do you know where the cliff jumping is?"
He desperately said, "We are looking for the same place. "
And we just left them away.

Shortly, after asked a local, we found the cliff jumping area. And... the gate was locked. What the hell!!! Rara ran to the cafe right in fornt of the area.

"Could you please tell me where is the staff, Mas? I want to do cliff jumping."
With a pocker face the mas - mas said,"It is closed."
"What?"
"Since a year a go."

...

Dududududu...

Minggu, 02 November 2014



Everything moves very fast. Probably that's how we describe todays world. People business has high demand to be transformed into new level due to the growth of technology that make all activities be able to be done efficiently. The development of technology in cyberspace bring a new trend called virtual office.

Virtual office is a new way of working which makes people can work remotely from their working place. How can it be happened?

Imagine when you start your business. You need to find the way to make all actions done efectively. In another hand, you need to control company expense to make your new born business stable. Yet, you need to settle somewhere for keep in touch with your team, your prospected client, and your partner that force you to have an office. By looking at the condition, virtual office is the most suitable option to answer the demand. Everything can be done in virtual working space, at the same time you can minimize the expense in office asset cost.

VOffice is one of company which offers us virtual office service. By using this service, it will be very possible for us to do our job at home, or while in business trip. VOffice has product packages with certain key features based on what we need, such as: office address in business area, professional call handling, fax service, and many other benefits. VOffice location is now available in 7 area 6 in Jakarta and 1 in Surabaya, and it will grow more.

VOffice office location and features

This is how VOffice work. First, the client decides in which area the office will be addressed. Based on client preference, VOffice offers three product packages with certain key fitures: Silver, Gold, Platinum. Beside mentioned above, the client will be provided with many services based on their choice, such as: telephone line, free meeting room, free notification for every document adressed to the client, call forwarding, pick up air port service in all VOffice branch in Indonesia, teleconference service, web design service, etc.

Meeting room available for client

Those key features are very helpful to handle the office activity everywhere we are, while maintaining our company brand image professionally. For new company, it is very helpful to build company self confidence by having complete office component through VOffice. Say good bye to traffic jam which always be the big reason of time-wasting when we have appointment with client, we can handle teleconference with VOffice service. We won't miss any updates in office activities anymore, even when you are in Bali for vacation.

I am personally satisfied with VOffice website. It provides clear explanations for the customer to get more clear about VOffice service and price. I tried pop-up chat feature in VOffice website which is connected to the client consultants. They warmly serve the website visitors and give explanation we need about VOffice. I also got very quick response in my email after requesting VOffice service detail. Chat with them here, and feel the hospitality of service start from the beginning.

Pop-up chat menu connects website visitors to the consultant officer

This is not the only service we can have in VOffice. VOffice provides a service for company registration, both for Indonesian and foreigner who want to start the company in Indonesia. VOffice team will support all of the process and requirement needed, based on the procedure in Indonesia. Owning the company will be no more only a dream. Check how it works here.

With the jargon "A Big Business Image Without The Big Price Tag", VOffice informs us to feel the new experience in office hour activities with fair price and useful features. It brings office hour to the new definition. It is no more about people wake up every morning and go to the office, then sit to their chair, work with computer along the day, and go back home. Office routine now can be done everywhere as you expected. This is fun. We won't be trapped to boring routine all day long. This is how technology bring us to the new way of working.

Visit VOffice website: www.voffice.co.id
Surabaya VOffice website: www.surabayavirtualoffice.com


Rabu, 15 Oktober 2014

The happiest thing in life is when your plan meet right person to make it happen.

So thank you Damara for being super fancy companion during my trip. Nusa Lembongan was actually her idea. One of her friend from France came to Bali for getting his diving license. So I came with them too for snorkeling, paid back what Gili Trawangan didn't give me when I went there.

The trip was started from Sanur Beach. Again, I met the sensation of fast boat smack. But God blessed me, it was only around 30 minutes trip. Paying for itinerary ticket, IDR 150K, we stopped in Jungut Batu Village. Then, walk along the street.

I couldn't deny that this place s so quiet and nice. And I could imagine what happened with this place when the night comes. Probably as calm as silent night moment. We stopped in a shop nearby big temple, something delicious was there, TIPAT!!!!!

It s Bali traditional food made from steamed rice covered with coconut leave. If you're Indonesian, it s actually ketupat. It s served with sprout, steamed vegetables, and peanut chili sauce. The price was super cheap, IDR 8K. Yumm!!!

Many homestays re there in the village,  you can choose one place which fits to your budget. I came there not in the peak season, so I didn't book the room, just go show. I got IDR 250K per night in a new place called Made Home Stay (if I am not mistaken). The rest, motorcycle renting for IDR 100K include fuel, since no gas station there. What I was thinking, if you really go to this island and plan for roaming around, no option, rent a motor. Even it is just an island, the distance between one to another is not kidding yaar (borrow Indian accent).

One more thing, bring enough cash! I told you my [a bit] suffering story about that.
There is no ATM in heaven, right? Dudududu...